Endog-endogan Maulid Nabi Desa Kembiritan Digelar Meriah, 6 Ton Telur Diarak dan Dibagikan ke Warga

IMG-20260825-WA0073.jpg Tradisi Endogan-endogan Dalam Rangka Maulid Nabi di Desa Kembiritan (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI — Tradisi Endog-Endogan kembali mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (25/8/2026). Tradisi yang telah dijaga warga selama 28 tahun itu berlangsung semarak dengan melibatkan sekitar 1.500 peserta.


Tidak hanya menjadi perayaan budaya, Endog-Endogan juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus berbagi. Tahun ini, sekitar 6 ton telur diarak dalam rangkaian kegiatan tersebut sebelum dibagikan kepada masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui peserta.


Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kembiritan selama hampir tiga dekade. Dalam tiga tahun terakhir, Endog-Endogan Kembiritan juga masuk dalam kalender agenda tahunan Banyuwangi Attraction.


Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi konsistensi masyarakat Kembiritan dalam mempertahankan tradisi tersebut. Menurutnya, keberlangsungan Endog-Endogan menunjukkan bahwa budaya lokal tetap bisa tumbuh di tengah perkembangan zaman.


"Meski dengan keterbatasan anggaran, masyarakat masih tetap kompak menggelar tradisi yang sudah berlangsung setiap tahun ini," kata Ipuk saat menghadiri kegiatan.


Ipuk berharap Endog-Endogan tidak berhenti pada kemeriahan sebuah acara. Lebih dari itu, nilai kebersamaan, kepedulian sosial, guyub rukun, dan semangat gotong royong yang ada di dalamnya juga harus terus dipertahankan.


"Mudah-mudahan bukan hanya kemeriahannya saja, tetapi juga ada aspek sosialnya, ada guyub rukunnya dan gotong royongnya," ujarnya.


Menurut Ipuk, tradisi seperti Endog-Endogan memiliki nilai penting karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Semangat tersebut dinilai sejalan dengan pesan yang terkandung dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.


"Semoga peringatan Maulid yang digelar di Banyuwangi ini menjadi berkah bagi seluruh masyarakat yang merayakannya," tambah Ipuk.


Kepala Desa Kembiritan Sukamto mengatakan Endog-Endogan telah diwariskan dari generasi ke generasi selama 28 tahun. Pada awalnya, pelaksanaan tradisi tersebut masih sederhana dengan warga berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung secara gotong royong.


Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang semakin besar. Tidak hanya warga, berbagai lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat kini turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.


"Selama 28 tahun tradisi ini terus kami rawat. Dari yang awalnya sederhana, sekarang keterlibatan masyarakat semakin luas. Lembaga pendidikan, yayasan, hingga kelompok masyarakat ikut memeriahkan," terang Sukamto.


Tahun ini, sekitar 1.5000 rang ikut ambil bagian dalam rangkaian Endog-Endogan. Mereka berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang membawa kreasi masing-masing dalam pawai.


Ribuan telur yang dibawa dalam pawai tersebut kemudian dibagikan kepada warga yang berada di sepanjang jalur yang dilalui peserta. Pembagian tersebut menjadi salah satu bagian yang ditunggu masyarakat karena memperkuat nilai berbagi dalam tradisi Maulid Nabi.


Untuk menjaga kegiatan tetap berjalan lancar, panitia juga melakukan pengaturan terhadap jalur pawai. Titik keberangkatan dipusatkan dari Lapangan Kembiritan dan diarahkan ke jalur utara untuk menghindari penumpukan peserta di jalan utama.


Sementara itu, titik akhir pawai diarahkan hingga kawasan perempatan SMA Taruna Bhayangkara.


"Sesuai arahan kepolisian, kami menggunakan sebagian badan jalan sehingga aktivitas pengguna jalan lainnya tetap bisa berjalan dan tidak menimbulkan kemacetan," jelas Sukamto.


Rangkaian pawai Endog-Endogan Kembiritan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dan berlangsung selama kurang lebih tiga jam hingga sekitar pukul 09.30 WIB.


Bagi masyarakat Kembiritan, Endog-Endogan bukan sekadar tradisi tahunan. Di balik pawai dan ribuan telur yang dibawa, tersimpan semangat untuk menjaga warisan budaya sekaligus merawat kebersamaan warga melalui tradisi berbagi, guyub rukun, dan gotong royong. (ep)