Gotong Royong Warnai Petik Laut Muncar, Anggota Komisi II DPRD Banyuwangi Acungi Jempol

1wee1.jpg Anggota Komisi II DPRD Banyuwangi Desi Prakasiwi Hadiri Petik Laut Muncar (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Tradisi tahunan Petik Laut Muncar kembali berlangsung meriah pada peringatan 15 Suro. Di balik prosesi larung sesaji dan lomba perahu budaya, semangat gotong royong masyarakat menjadi pemandangan yang paling menonjol. Seluruh elemen masyarakat, mulai nelayan, tokoh adat, pelaku UMKM hingga kelompok seni, bahu-membahu menyukseskan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun tersebut.


Anggota Komisi II DPRD Banyuwangi, Desi Prakasiwi, memberikan apresiasi tinggi atas kekompakan masyarakat Muncar dalam menjaga tradisi sekaligus merawat kerukunan.


"Saya sangat mengapresiasi masyarakat Muncar. Tradisi Petik Laut ini berhasil digelar dengan sangat luar biasa karena mengusung budaya gotong royong. Yang paling membanggakan adalah bagaimana warga mengedepankan kerukunan di atas segalanya," ujar Desi.


Menurut Desi, Petik Laut bukan sekadar agenda budaya tahunan. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa persatuan masyarakat mampu menjadi modal utama dalam membangun daerah.


"Esensi Petik Laut bukan hanya prosesi larungnya, tetapi bagaimana seluruh masyarakat bisa bersatu, saling membantu, dan memiliki rasa memiliki terhadap tradisi ini. Ketika masyarakat kompak, acara sebesar apa pun akan berjalan dengan baik," katanya.


Politisi Komisi II DPRD Banyuwangi itu juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan selama rangkaian kegiatan berlangsung. Menurutnya, sejak masa persiapan hingga puncak acara, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat berkat ramainya kunjungan wisatawan.


"Sebagai anggota Komisi II yang membidangi perekonomian, saya melihat perputaran ekonomi di Muncar sangat terasa. UMKM, pedagang kecil, pelaku jasa transportasi hingga pelaku usaha lainnya ikut menikmati manfaat dari tradisi ini," ungkapnya.


Desi menilai, kondisi yang aman dan harmonis menjadi faktor penting yang membuat wisatawan nyaman datang ke Muncar. Dampaknya, tidak hanya budaya yang tetap lestari, tetapi juga kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.


"Ketika kerukunan dijaga, tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan dan berkah ekonomi. Mulai dari pedagang kecil hingga pelaku jasa transportasi, semua merasakan dampaknya. Ini adalah contoh nyata bagaimana budaya bisa menyejahterakan masyarakat," ujarnya.


Ia berharap semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Muncar dapat terus dipertahankan dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam melestarikan tradisi.


"Saya berharap semangat kebersamaan seperti ini terus dijaga. Budaya harus menjadi perekat masyarakat, bukan pemisah. Kalau masyarakat terus rukun, saya yakin Petik Laut Muncar akan semakin besar dan menjadi daya tarik wisata budaya yang membanggakan Banyuwangi," pungkasnya.


Selain prosesi larung sesaji, Petik Laut Muncar juga menjadi ruang kreativitas masyarakat. Sejumlah ibu rumah tangga ikut memeriahkan pawai pra-larung dengan mengiringi sesaji gitik melalui pertunjukan seni tradisional yang dibawakan kelompok seni Bestie Gemoy, binaan Dodik Villa Gumuk Emas Paludem Muncar. Penampilan mereka turut menambah semarak suasana dan menjadi bukti bahwa tradisi Petik Laut tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. (ep)