OPINI: Tarkam, Hiburan Rakyat Bertajuk Pertunjukan Sepak Bola Antar Desa Oleh: Ali Nurfatoni*

1aiiuBOll.jpg Ilustrasi AI

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Kabar mengejutkan datang dari panitia pelaksana turnamen bertajuk Piala Ketua PSSI Banyuwangi. Laga final akhirnya dipindah ke Stadion Diponegoro dan digelar tanpa kehadiran penonton.


Partai puncak antara Persegam Gambiran versus Putra Minak Jinggo (PMJ) Krikilan harus berlangsung dalam suasana steril. Bukan karena rivalitas antar pemain, melainkan potensi gesekan antar suporter yang dikhawatirkan memicu konflik lanjutan.


Kedua tim sebenarnya sudah pernah bertemu pada babak delapan besar. Saat itu laga berakhir imbang 0-0. Namun situasi memanas setelah pertandingan babak penuh karena terjadi insiden antar suporter. Demi keselamatan, seluruh pemain dan ofisial PMJ memilih meninggalkan lokasi lebih awal. Karena PMJ dianggap tidak dapat melanjutkan babak adu penalti, panitia akhirnya menetapkan Persegam menang WO.


Bagi PMJ, keputusan tersebut tentu menyisakan luka. Namun mereka tetap memilih melanjutkan perjuangan karena format kompetisi menggunakan sistem gugur ganda. Setelah sebelumnya mengalahkan Milan FC dan melewati Kaesar Karangsari, PMJ akhirnya lolos ke semifinal sebagai runner up pool atas mendampingi Persegam sebagai pemimpin.


Di sisi lain, Desi Banteng FC yang diperkuat sejumlah pemain “kelas A” justru gagal memenuhi ekspektasi. Klub yang terkenal atas ketokohan salah satu anggota dewan dan pemilik sound Sultan Production itu terbilang jor-joran membangun kekuatan tim. Mereka bukan hanya memakai jasa pemain lokal, tetapi juga mendatangkan pemain papan atas dan pemain asing dengan biaya yang tentu tidak murah.


Meski demikian, Desi Banteng FC hanya mampu finis sebagai runner up pool bawah setelah kalah bersaing dengan Argent Genteng yang keluar sebagai juara pool bawah. Dan, pada semifinal, Desi Banteng FC menghadapi Persegam yang berstatus juara pool atas. Secara materi pemain, banyak pihak yang menjagokan Desi Banteng FC sebagai favorit. Namun, situasi di lapangan hasilnya berbeda.

 

Sebetulnya, Persegam harus bermain dengan 10 orang pada babak kedua setelah satu pemain mendapat kartu merah. Situasi itu seharusnya menjadi keuntungan bagi Desi Banteng FC. Sayangnya, keunggulan jumlah pemain gagal dimanfaatkan dengan maksimal.


Laga berlangsung alot. Bahkan sebelum kick off, sempat terjadi kericuhan antar suporter yang menyebabkan beberapa orang mengalami luka. Beruntung situasi dapat dikendalikan dan pertandingan tetap berlangsung hingga akhirnya Desi Banteng FC tersingkir lewat drama adu penalti.


Memang, diakui atau tidak, tarkam memiliki magnet tersendiri. Warga sangat antusias untuk menyaksikan pemain-pemain berkualitas yang biasanya hanya dari cerita dan terlihat lewat layar kaca.


Demi menjaga nama kampung, warga kerap kali rela iuran untuk membayar pemain bintang. Sebab yang dipertaruhkan selain kemenangan namun juga kebanggaan. Contoh ; di kampung saya, nama timnya Sarap FC. Kesannya memang beda, padahal itu kepanjangan dari Sumberarum Pasar dan pernah menjadi runner up pada tarkam tahun 2015 yang digelar di Maron juga.


Selain berbasis kampung, tarkam juga biasanya diikuti oleh tim berbasis nama tokoh dan atau pun nama bidang usaha seseorang. Khusus ini, biasanya, sumber dana untuk menggunakan jasa pemain pun tergolong mandiri.


Dengan begitu, umum dan lumrah bahwa tarkam pesertanya bukan murni klub anggota PSSI seperti kompetisi resmi. Hanya saja, panitia sudah merumuskan, melalui rekam jejak klub tersebut. Ada pemilahan khusus setiap klub karena memang ada klub telah mengantongi predikat spesialis tarkam.


Jadi, setiap klub bertabur bintang tidak akan saling bertemu di babak penyisihan. Mereka dengan materi mencolok bakal diketahui di babak delapan besar. Pada babak itu, penonton yang datang ke lapangan bakal semakin padat. 


Ya, tarkam memang hiburan bertajuk pertunjukan olahraga. Jadi, sangat umum kalau bersifat komersil. Tetapi, patut disayangkan bahwa puncak hiburan olahraga yang ditunggu tunggu  harus disaksikan tanpa penonton. Esensinya memang bertujuan untuk menghindari konflik antar suporter. 


Semoga saja, atas peristiwa ini, menjadi dasar dan pertimbangan bagi kita semua bagaimana cara mendukung tim dengan suka cita tanpa harus huru-hara. 


Mendukung iya, tapi kalau sampai memicu dan menimbulkan kerusuhan, semuanya menjadi rugi. Dampaknya jelas dan nyata : Laga final, selain pindah venue, juga laga nanti tanpa penonton dan peristiwa ini bukan pertama kali terjadi di Banyuwangi.  


Menjunjung tinggi sportivitas dan fair play telah berjalan semestinya. Kalau ada protes atas kepemimpinan perangkat pertandingan memang wajar. Tetapi, di arena tarkam ini tidak menggunakan teknologi VAR seperti di liga liga. Oleh karena itu, mari kita sikapi ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Klub yang menang jangan jumawa, yang kalah pun harus lapang dada. Ingat: Sepakbola pemersatu bangsa, seperti yang digaungkan oleh Didier Drogba. (*)

*Ali Nurfatoni, Ketua Rumah Analisis Kebijakan Publik Kabupaten Banyuwangi