OPINI: Refleksi Ndangdutan saat Isra Miraj. Jangan-jangan Kita yang Salah Duluan Oleh: Shulhan Hadi*

Salinan_dari_Desain_Tanpa_Judul.png Tangkapan Layar Video Penampilan Biduan Dangdut di Panggung Isra Miraj (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Baru-baru ini cuplikan video ndangdutan pada kegiatan peringatan Isra Miraj di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon viral. Seorang penyanyi dengan busana yang tidak Islami bernyanyi. Diikuti seorang laki-laki yang ikut berjoget.  Sejumlah pihak menyayangkan kejadian pada rekaman itu.


Ada yang menyalahkan busana yang dikenakan si penyanyi. Ada yang menyanyangkan aksi joget laki-perempuannya, ada yang menyayangkan karena dilangsungkan dalam momen Peringatan Isra Miraj dan masih banyak lagi. Intinya peristriwa itu dianggap tidak tepat. 


Saya mencoba mengandaikan video itu sebagai "kondisi tidak baik". Setiap kondisi tidak baik itu sebenarya ada dua hal yang menyertai, yakni mitigasi dan adaptasi.


Dalam kasus ini adaptasi (boleh disebut reaksi) pihak terkait beragam. Dari sisi pelaksanaan, panitia telah memberikan klarifikasi yang mungkin diawali dengan pemberian keterangan kepada kepolisian, sejumlah masyarakat mengecam dan menyumpahi video itu, ironisnya disertai membagikan video. MUI Banyuwangi pun tidak ketinggalan memberikan tanggapan.  Sementara NU (baik pengurus hasil konfercab Blokagung baru maupun pengurus demisioner) belum tampak memberikan komentar. Kita tunggu saja.


Berbagai tanggapan itu adalah adaptasinya, lalu mitigasinya yang mana?


Mari kita tarik dari awal, siapa yang bertanggungjawab mitigasi (mereka-reka) agar peristiwa semacam itu tidak terjadi? Panitia pelaksana, tentu.


Panitia itu secara kuantitatif banyak unsur. Maka pihak yang seharusnya memerankan diri sebagai Steering Commitee atau penasihat, pengarah semestinya harus berperan sejak awal. Sejak rencana pelaksanaan itu dibentuk.  


Pertanyaan lanjutan, apakah Panitia tidak melibatkan ulama, atau tokoh yang dianggap paham dalam menyiapkan acara itu?


Ataukah ulama  tidak melibatkan diri dalam acara itu?. Jika jawabannya dari dua pertanyaan  itu "tidak", berarti silaturrahim ulama dan khalayak umum sedang putus, dan ini tidak baik jika berlarut, mari segera disambung. Tapi semoga pikiran saya itu tidak benar semua dan saya tidak telah lancang membangun asumsi. 


Hanya saja jika adaptasi tidak dibarengi mitigasi yang berimbang, dikhawatirkan memunculkan reaksi yang tidak tepat atau overdosis. Dan pada akhirnya justru menjadi kontra produktif dengan geliat warga selanjutnya.


Melihat kejadian itu, saya jadi ingat seroang kiai yang cukup disegani di kawasan Banyuwangi selatan. Dalam memypakna pengajian, Beliau selalu meminta Panitia membuat dua baris pada kursi undangan perempuan dan laki-laki.  Fungsinya untuk menyatukan semua elemen masyatakat. Deretan kanan kiri diisi tokoh dan warga lokal. Konsepnya bukan depan belakang. Ini sebuah ide yang genuine dan brilian. 


Hiburan tradisi pun selalu ikut menyertai, batasan yang diarahkan sang Kiai jelas, hiburan siang hari agar semua orang bisa menyaksikan. Pengajian malam harinya. 


Gagasan seperti ini tentu sangat bisa dilakukan ulama masa kini dan yang sudah bersentuhan dengan berbagai sumberdaya, seperti jaringan struktur organisasi.  


Sedangkan untuk warganet yang mudah terdorong mencibir aksi dalam video itu disertai dengan membagikannya sekaligus, usulan saya ada baiknya agar dihentikan penyeberannya. Karena jika konten nasihat muncul bersamaan dengan konten visual (gambar maupun video) biasanya penerima cenderung menampung dan mengingat isi visual.  Sehingga niat amar maruf nahi mungkar justru bisa terbalik. Ada pilihan yang lebih menarik jika berkenan, adakan kegiatan serupa dengan tatalaksana yang baik. Sehingga bisa menjadi contoh panitia di kegiatan lain berikutnya.


Dengan demikian, mekanisme saling nasihat menasehati dalam kebaikan berjalan seimbang. Dan tidak akan ada masyarakat yang bergumam "ngertiyo ngono ra usah dienekne" hanya karena kurang tepat dalam penanganan. (*)

*Shulhan Hadi, Nahdliyin Peminat Kajian Pemberdayaan Sosial Masyarakat