Petani di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi Rela Jual Mobil Demi Beli Sound System (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Seorang petani asal Dusun Simbar 2, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, punya cara tak biasa untuk mengejar kebahagiaan. Hari rela menjual mobil pribadinya demi membeli seperangkat sound horeg yang akan digunakan untuk memeriahkan Kirab Budaya Desa Tampo 2026.
Bagi Hari, keputusan tersebut bukan sekadar membeli perangkat sound system. Ia ingin mewujudkan impian yang sudah lama diinginkannya sekaligus ikut ambil bagian dalam pesta budaya di desanya.
"Saya memang sudah punya keinginan untuk punya sound sendiri. Kebetulan ada kirab budaya di desa, jadi saya berpikir sekalian untuk ikut meramaikan," ujar Hari, Sabtu (08/08/2026).
Keputusan menjual mobil itu sempat membuat keluarga, tetangga, maupun kerabatnya terkejut. Sebab, mobil bagi sebagian orang merupakan aset berharga yang sulit untuk dilepas.
Namun, Hari memiliki pertimbangan sendiri. Menurutnya, setiap orang mempunyai cara berbeda dalam menikmati hasil kerja kerasnya.
"Memang banyak yang tanya, kenapa mobil dijual hanya untuk membeli sound. Tapi bagi saya, ini hobi. Selama kita mampu dan tidak merugikan orang lain, saya pikir tidak masalah," katanya.
Hasil penjualan mobil tersebut kemudian ditambah dengan tabungan yang dikumpulkan Hari sedikit demi sedikit. Uang itu digunakan untuk berburu perangkat audio di Brewok Audio, Blitar.
"Saya jual mobil, kemudian saya tambah dengan tabungan. Uangnya saya kumpulkan sedikit-sedikit. Setelah cukup, saya langsung berangkat ke Blitar untuk mencari perangkat yang saya butuhkan," jelasnya.
Tak tanggung-tanggung, Hari membeli 8 unit subwoofer, 6 unit speaker atau kruwek, 2 unit power amplifier, 1 mixer, serta 2 sub box baru.
"Saya memang sengaja mengambil perangkat yang menurut saya sesuai dengan kebutuhan. Tidak langsung semuanya mudah, karena harus menghitung kemampuan dan kebutuhan sound-nya," ungkap Hari.
Seluruh perangkat tersebut dibeli pada Juli 2026. Tujuan utamanya hanya satu, yakni bisa tampil dan ikut memeriahkan Kirab Budaya Desa Tampo yang digelar Sabtu (8/8/2026).
"Saya dari awal memang membayangkan sound ini bisa ikut kirab. Jadi ketika perangkat sudah datang, rasanya senang sekali. Apa yang saya impikan akhirnya bisa terwujud," tuturnya.
Namun, keinginan Hari untuk tampil sesuai nomor urut peserta tidak sepenuhnya berjalan mulus. Ia mendaftarkan kelompoknya setelah proses pengundian nomor peserta selesai sehingga namanya tidak masuk dalam daftar nomor urut kirab.
"Memang saya daftar setelah pengundian selesai, jadi tidak mendapatkan nomor urut seperti peserta lainnya. Tapi bagi saya tidak terlalu masalah," kata Hari.
Menurutnya, yang terpenting bukan soal mendapatkan posisi tertentu dalam iring-iringan. Ia hanya ingin ikut menjadi bagian dari kemeriahan acara desa.
"Yang penting saya bisa ikut meramaikan kirab. Saya ingin sound ini keluar, dimainkan, dan dinikmati bersama. Itu sudah membuat saya senang," ujarnya.
Persiapan pun dilakukan dengan serius. Sejak Kamis malam, Hari bersama anggota tim mulai memasang dan merakit seluruh perangkat sound baru di atas truk.
"Kami mulai pasang dari malam. Banyak yang harus disiapkan, mulai dari kabel, power, speaker sampai penataan di atas truk. Kami kerjakan bersama-sama," jelasnya.
Mereka bahkan bekerja hingga dini hari untuk memastikan seluruh perangkat siap digunakan saat cek sound maupun pelaksanaan kirab.
"Capek pasti, karena sampai dini hari. Tapi karena dikerjakan bersama teman-teman, justru terasa menyenangkan. Ada rasa puas ketika melihat semua perangkat sudah terpasang," ungkap Hari.
Malam sebelum kirab menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Seluruh kelompok sound horeg dijadwalkan melakukan cek sound untuk menguji performa perangkat masing-masing.
"Buat saya, saat pertama kali sound dinyalakan itu yang paling ditunggu. Karena dari situ saya bisa merasakan hasil dari apa yang selama ini saya perjuangkan," katanya.
Kirab Budaya Desa Tampo 2026 sendiri dipastikan berlangsung meriah. Sebanyak 18 unit sound horeg dijadwalkan mengikuti kegiatan tersebut dengan rute sekitar 4 kilometer.
Ribuan warga diperkirakan memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan iring-iringan peserta yang menampilkan berbagai kreasi seni dan budaya.
Bagi Hari, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut bukan hanya soal sound horeg. Ia mengaku mendapatkan pengalaman, teman, dan kebersamaan baru.
"Di sini saya juga dapat teman-teman baru. Kami bisa berkumpul, bekerja sama, memasang sound bersama. Jadi bukan hanya soal suara kerasnya," ujarnya.
Di tengah pro dan kontra mengenai sound horeg, terutama terkait persoalan kebisingan, Hari memilih melihat kegiatan tersebut dari sisi kebersamaan dan hiburan masyarakat.
"Setiap orang punya cara sendiri untuk mencari kebahagiaan. Kalau saya, salah satunya lewat hobi ini. Saya senang ketika bisa berkumpul dengan teman-teman dan keluarga," tutur Hari.
Ia mengaku tidak menyesali keputusannya menjual mobil untuk membeli perangkat sound tersebut.
"Sampai sekarang saya tidak menyesal. Justru saya merasa senang karena apa yang saya inginkan bisa terwujud. Mobil bisa dicari lagi, tetapi kesempatan dan kebahagiaan seperti ini belum tentu datang setiap saat," ungkapnya.
Hari pun menegaskan keputusan tersebut telah dipikirkan matang-matang. Ia berharap sound miliknya tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kegiatan masyarakat.
"Yang penting saya dan keluarga bisa bahagia, itu sudah saya syukuri. Bahagia itu tidak bisa diukur dengan harta. Makanya saya membeli sound system di Brewok Audio Blitar," katanya.
"Buat saya, ini bukan sekadar membeli sound. Ada perjuangan di baliknya, ada tabungan yang dikumpulkan, ada mobil yang saya jual, dan ada impian yang akhirnya bisa diwujudkan," imbuh Hari.
Kisah Hari menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam memaknai kebahagiaan. Bagi petani asal Simbar 2 itu, dentuman sound horeg dalam Kirab Budaya Desa Tampo bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi simbol sebuah impian yang diwujudkan melalui kerja keras dan pengorbanan. (ep)

