Proses Pembangunan KDMP Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Proses pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, diterpa isu terkait status lahan yang digunakan untuk proyek tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Segobang Imro’atul Husnah melalui Sekretaris Desa (Sekdes) Abdul Mujib memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan informasi yang beredar di masyarakat, agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai status lahan maupun teknis pelaksanaan proyek.
“Sekarang sudah clear, proses pembangunan KDMP tetap berjalan, para tukang juga bekerja sebagaimana mestinya,” ujar Mujib kepada BWI24Jam, Jumat (17/04/2026).
Mujib menjelaskan bahwa lahan yang digunakan merupakan fasilitas umum milik masyarakat Desa Segobang. Berdasarkan data desa, lahan tersebut awalnya merupakan komitmen pejabat kepala desa terdahulu untuk dijadikan lapangan bagi warga.
Setelah melalui dinamika panjang, lokasi tersebut kemudian disepakati menjadi area fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, termasuk pembangunan gerai KDMP.
“Karena statusnya adalah fasilitas umum milik warga, pihak pemdes sudah meminta persetujuan langsung kepada warga sebagai pemilik hak melalui Musdesus (Musyawarah Desa Khusus),” jelasnya.
Ia menambahkan, forum Musdesus tersebut dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga jajaran pimpinan tingkat kecamatan, termasuk Camat dan Kapolsek Licin. Seluruh dokumen pendukung terkait penyelenggaraan Musdesus juga disebut tersimpan lengkap.
Dalam forum tersebut, warga menyetujui penggunaan lahan dengan syarat adanya lahan pengganti untuk lapangan desa.
“Warga setuju dengan syarat ada lahan pengganti untuk lapangan desa, dan kami sudah menyanggupi itu. Insya Allah, tahun ini lahan pengganti sudah siap digunakan,” terang Pemdes.
Kendati diterpa isu, proses pembangunan KDMP Segobang tetap berjalan. Pembangunan gerai koperasi yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi desa dengan pengelolaan secara profesional. (*)

