Ribuan Bibit Ditanam di Banyuwangi, Gerakan Konservasi Libatkan Warga Tepian Hutan

1uibui1.jpg Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 di Banyuwangi dengan Penanaman Pohon (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 di Banyuwangi diwarnai aksi penanaman ribuan pohon sekaligus deklarasi kader konservasi hutan di Lapangan Kaliandong, Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kamis (21/05/2026).


Sebanyak 2.026 bibit tanaman konservasi dan buah berkayu ditanam secara simbolis oleh Perhutani KPH Banyuwangi Barat bersama pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas lingkungan hingga masyarakat sekitar kawasan hutan.


Kegiatan tersebut tak hanya difokuskan pada penghijauan semata, namun juga diarahkan sebagai langkah menjaga tutupan hutan sekaligus mendukung penguatan program carbon trading atau perdagangan karbon berbasis kawasan hijau.


Administratur (ADM) Perhutani KPH Banyuwangi Barat, Muklisin mengatakan kondisi tutupan kawasan hutan di wilayah Banyuwangi Barat saat ini masih tergolong sangat baik dengan luas mencapai sekitar 42.700 hektare dan persentase tutupan lahan di atas 90 persen.


Menurutnya, kondisi itu menjadi modal penting dalam mendukung upaya penyerapan emisi karbon di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim global.


“Dengan konsep konservasi hutan yang baik tentu akan memberikan kontribusi terhadap serapan emisi karbon. Ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan,” ujar Muklisin.


Ia menyebut, kawasan hutan saat ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan lahan pemukiman. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan tekanan sosial terhadap kawasan hutan apabila tidak diimbangi dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat.


“Ke depan pertumbuhan masyarakat akan terus meningkat sehingga tekanan terhadap kawasan hutan juga semakin besar. Karena itu kita harus memitigasi bagaimana masyarakat tetap berdaya tanpa mengabaikan aspek ekologis,” katanya.


Muklisin menjelaskan, kader konservasi yang dideklarasikan dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menjalankan tiga fungsi penting, yakni menjaga aspek ekologis, ekonomi, dan sosial kawasan hutan.


“Pertama menjaga fungsi ekologis hutan. Jangan sampai aktivitas ekonomi dan sosial justru mengabaikan lingkungan,” jelasnya.


Selain itu, lanjut Muklisin, kawasan hutan juga memiliki nilai ekonomi melalui hasil produksi yang selama ini dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan.


“Hutan produksi ini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tepian hutan. Tapi masyarakat yang memanfaatkannya juga harus ikut menjaga kelestarian kawasan,” tambahnya.


Aspek sosial juga menjadi perhatian penting dalam pengelolaan kawasan hutan. Menurut Muklisin, sinergi antara Perhutani, pemerintah daerah dan masyarakat harus terus diperkuat agar konservasi berjalan berkelanjutan.


Sementara itu, Staf Ahli Pemerintahan, Desa dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Alief R Kartiono mengatakan kegiatan berbasis lokal seperti deklarasi kader konservasi dan penanaman pohon tersebut diharapkan mampu memberi dampak lebih luas hingga tingkat global.


“Kegiatan lokal seperti ini diharapkan dampaknya bisa dirasakan luas oleh masyarakat dan menjadi bagian dari agenda global terkait lingkungan,” ujarnya.


Ia memastikan program pengurangan emisi karbon dan penghijauan kawasan hutan akan terus menjadi perhatian pemerintah daerah melalui kolaborasi bersama Perhutani dan masyarakat.


“Program carbon trading dan penguatan kawasan hijau menjadi perhatian pemerintah daerah agar Banyuwangi tetap hijau dan lestari,” katanya.


Menurut Alief, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama agar fungsi ekologis kawasan hutan tetap terjaga di tengah perkembangan wilayah dan pertumbuhan jumlah penduduk.


“Yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga fungsi ekologis hutan,” tegasnya.


Salah seorang warga, Hari Suharto mengaku mendukung penuh langkah konservasi yang dilakukan Perhutani bersama pemerintah daerah. Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan menjadi bagian penting dalam keberhasilan program pelestarian lingkungan.


“Kami mendukung program konservasi yang dilakukan Perhutani,” ujarnya.


Hari juga mengapresiasi pendekatan dialogis yang dilakukan dalam membahas pelestarian kawasan hutan bersama masyarakat sekitar.


“Kami senang karena ada keterbukaan dan rembug bersama terkait menjaga fungsi ekologis kawasan hutan,” pungkasnya. (ep)