AH (8) Masih Dirawat di RSUD Blambangan, Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Nasib nahas dialami AH (8), bocah asal Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, yang menjadi korban kecelakaan tertemper Kereta Api (KA) Wijaya Kusuma. Hingga Kamis (05/11/2026), korban masih belum sadarkan diri dan menjalani perawatan intensif di RSUD Blambangan.
Kondisi siswa sekolah dasar tersebut masih memprihatinkan. Tim medis menduga AH mengalami cedera otak berat akibat insiden tersebut. Rumah sakit juga telah memasang penyangga leher atau collar neck untuk menjaga stabilitas bagian leher korban.
Plt Direktur RSUD Blambangan, dr Siti Asiyah Anggraeni, mengatakan korban masih belum sadar dan membutuhkan penanganan intensif. Pemeriksaan lanjutan juga dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan cedera yang dialami AH.
"Kondisinya saat ini (kemarin) masih belum sadar dan sedang menjalani perawatan intensif. Kami juga telah memasang collar neck karena ada dugaan cedera otak berat serta melakukan pemeriksaan rontgen menyeluruh di area kepala untuk mengetahui sejauh mana tingkat cedera yang dialami korban," ujar dr Asiyah.
Pemeriksaan radiologi tersebut menjadi bagian dari upaya medis untuk mengetahui kondisi korban secara lebih menyeluruh. Tim dokter terus memberikan penanganan maksimal guna menyelamatkan nyawa bocah tersebut.
Di balik perjuangan AH menjalani perawatan, kedua orang tuanya juga harus menghadapi persoalan ekonomi. Keluarga yang tergolong kurang mampu itu kini harus memikirkan kebutuhan sehari-hari selama mendampingi putranya di rumah sakit.
AH berasal dari keluarga yang masuk dalam desil 3 kelompok kesejahteraan. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani, sementara ibunya bekerja membantu membersihkan rumah warga.
Kepala Dusun Krajan, Desa Temuasri, Ramdan, mengungkapkan kedua orang tua AH sempat menangis saat mengetahui putranya harus dirujuk dari RSUD Genteng ke RSUD Blambangan. Mereka bukan hanya terpukul dengan kondisi anaknya, tetapi juga kebingungan memikirkan kebutuhan selama menjalani perawatan.
"Keluarga korban tentu membutuhkan bantuan karena memang tergolong keluarga kurang mampu," kata Ramdan.
Menurut Ramdan, penghasilan kedua orang tua AH yang terbatas membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus keperluan selama berada di rumah sakit.
"Begitu mengetahui anaknya harus dirujuk ke RSUD Blambangan, mereka langsung menangis. Mereka kebingungan memikirkan biaya operasional selama di rumah sakit," ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Temuasri berupaya meringankan beban keluarga dengan membantu mengurus Surat Pernyataan Miskin (SPM). Ramdan memastikan proses pengurusan dokumen tersebut telah selesai dan mendapatkan persetujuan.
Dengan adanya SPM, pembiayaan medis utama AH diharapkan dapat terbantu melalui skema bantuan yang tersedia.
Meski demikian, kebutuhan operasional harian keluarga selama mendampingi korban masih menjadi persoalan. Biaya makan dan kebutuhan lainnya harus tetap dipenuhi selama AH menjalani perawatan intensif.
"Insya Allah, untuk biaya medis utama sudah tertangani. Namun, keluarga masih kebingungan memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari selama mendampingi AH di rumah sakit," tuturnya.
Karena itu, keluarga korban masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Terlebih, hingga kini kondisi AH belum sadarkan diri dan belum diketahui berapa lama harus menjalani perawatan.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga hanya bisa berharap putra mereka segera menunjukkan perkembangan positif dan dapat kembali berkumpul di rumah. (ep)

