
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Film berjudul Lemah Santet Banyuwangi yang diproduksi oleh MD Pictures menuai kontroversi setelah teaser posternya dirilis di akun Instagram resmi MD Pictures pada Rabu (05/03/2025).
Penggunaan nama Banyuwangi dalam judul film ini memicu pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama karena tidak ada koordinasi dengan pemerintah daerah.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Taufik Rohman, menegaskan bahwa rumah produksi film tersebut tidak pernah mengajukan izin atau melakukan koordinasi dengan pihaknya.
"Film ini tidak pernah izin atau koordinasi dengan kami Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, karena menggunakan nama Banyuwangi," ujar Plt. Kadisbudpar Banyuwangi, Taufik Rohman, pada Kamis (06/03/2025)
Ia menilai bahwa film ini berpotensi merusak citra daerah.
"Banyuwangi dikenal di mana-mana dengan hal-hal positif. Dari judulnya saja, film ini akan mendowngrade nama Banyuwangi," imbuhnya.
Taufik berharap lembaga terkait tidak memberikan izin penayangan film ini, yang berdasarkan poster promosinya dijadwalkan tayang pada bulan Mei 2025.
Ketua DPC Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Banyuwangi, Denny Sun'anudin, juga mengecam film tersebut. Ia menyatakan bahwa warga Banyuwangi merasa tersinggung dan marah atas pembuatan film ini.
"Kami sebagai warga banyuwangi, bukan hanya tersinggung, tapi sangat marah. karena ini sangat menciderai citra Banyuwangi," kata Denny, didampingi Kabiro Hukum DPC PARFI Banyuwangi, Alex Budi Setiyawan.
Denny menyoroti dugaan bahwa film ini mengangkat peristiwa tragis pembantaian dukun santet tahun 1998, yang menurutnya memiliki latar belakang politis.
"Perlu kami luruskan bahwa peristiwa pembantaian tersebut merupakan modus operandi politis dari kalangan elit. Faktanya, meski ada embel-embel pembantaian dukun santet, ternyata yang menjadi korban paling banyak adalah para guru ngaji," ungkapnya.
Penolakan juga datang dari Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi. Ketua Pengurus Komite Media Rekam DKB Banyuwangi, A. Rahmatullah John, menegaskan bahwa masyarakat Banyuwangi merasa dirugikan oleh film ini.
"Kami dari dulu hingga saat ini lagi berbenah, lagi bangkit membangun negeri kami, yang berjuluk Banyuwangi," tegas John.
Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam produksi dan distribusi film ini segera membatalkan penayangannya. (rq)