Jelang Muktamar, Nahdliyin Banyuwangi Serukan Kembalikan Otoritas Kepemimpinan NU ke Ulama

20260819_074001.jpg Presidium Cabang MA IPNU Banyuwangi Gelar Jagong Muktamar di UNIIB (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menjadi perbincangan luas. Tak hanya di elit Pengurus Besar NU, namun juga bagi kalangan Nahdliyin di berbagai pelosok daerah.


Di antaranya oleh sejumlah Nahdliyin Banyuwangi dalam forum Jagong Muktamar: Menggagas NU Abad Kedua dari Pinggiran yang dihelat oleh Presidium Cabang Majelis Alumni IPNU Banyuwangi di Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB), Selasa (18/8/2026). Berbagai unsur nahdliyin saling melontarkan gagasan.


Gus Endi Fadlullah dari PP. Bustanul Makmur menyampaikan perlunya mengembalikan sakralitas keulamaan dalam ruh organisasi. “Jangan sampai keputusan-keputusan penting organisasi dikooptasi oleh kepentingan pragmatis orang luar,” tegasnya.


Hal senada diaminkan oleh berbagai kalangan. Baik dari kultural maupun struktural Nahdlatul Ulama. Di antaranya adalah budayawan nahdliyin, Taufiq Wr Hidayat. Ia menekankan pentingnya NU untuk kembali merevitalisasi nilai-nilainya. 


“Suara kaum pinggiran seperti ini, merupakan realitas sesungguhnya yang harus diurus oleh Nahdlatul Ulama. Bagaimana keresahan yang terjadi di tengah umat,” ungkap Ketua PC Lesbumi NU Banyuwangi masa khidmat 2018-2023 itu.


Ketua PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi yang hadir dalam diskusi tersebut, menegaskan akan membawa aspirasi Nahdliyin Banyuwangi di medan muktamar. “Pasti akan kami suarakan,” tegasnya.


Sementara itu, Abdullah Azwar Anas yang didapuk sebagai keynote speaker dalam diskusi tersebut, mengkonfirmasi jika keresahan warga NU Banyuwangi telah tersirat dalam draf materi muktamar. Ia menekankan bahwa tata kelola keorganisasian NU ke depan akan lebih ditekankan pada musyawarah dan otoritas keulamaan.


“Positioning Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) akan dilakukan penguatan. Ini nantinya yang akan menjaga otoritas keulamaan di dalam jamiyah NU,” tegas salah satu Tim Penyusun Drag Materi Keorganisasian Muktamar 35 NU itu.


Dalam kesempatan tersebut, Presidium Pusat Alumni IPNU itu juga menekankan pentingnya menggeser obrolan muktamar ke arah gagasan. Tidak semata soal kontestasi kepemimpinan. “Kita perlu merumuskan bagaimana NU menjawab tantangan zaman. Dimana Gen-Z, anak cucu kita sekarang ini, diarahkan oleh algoritma. Bagaimana NU menyikapinya?” ungkapnya.


Berbagai gagasan muncul dari para peserta diskusi yang dihadiri oleh berbagai elemen NU itu. Mulai dari jajaran PCNU Banyuwangi, pengurus lembaga, badan otonom, aktivis, akademisi, pengasuh pesantren dan lain sebagainya.


“Ruang dialog ini menjadi salah satu ikhtiar kami untuk memperkaya diskursus muktamar. Ini menegaskan NU bukan hanya milik elit, tapi juga ada di benak kaum alit,” pungkas Ketua MA IPNU Banyuwangi Lukman Hadi Abdillah. (*)