
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Kisah santri pondok pesantren ini patut diapresiasi dan diberi acungan jempol. Muhtadi, pria asal Desa/Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi tiba di Makkah hanya bermodal sepeda lipat dan memijat.
Kisah inspiratif itu Muhtadi mulai sejak Agustus 2024. Dari rumah, sepedah dikayuh menuju Mekkah. Sepeda lipat butut itu pada bagian boncengan belakang ditumpuk logistik bekal ia menempuh perjalan.
Tak dinyana, Muhtadi berangkat tak membawa modal uang sepeserpun. Modalnya cuma nekat, niat, dan tekad bulat ketemu Baitullah.
"Modalnya niat dan nekat. Kalau orang deso dulu mau berangkat ke Mekkah harus jual tanah sedangkan saya sendiri hidup diatas tanah orang," ujar Muhtadi melalui sambungan telepon video, Rabu (05/03/2025).
Keahlian memijat sewaktu nimba ilmu di Pondok Pesantren (PP) Darussalam Puncak jadi suntikan amunisinya selama ngontel. Setiap kehabisan perbekalan, Muhtadi mampir ke rumah warga maupun sesama alumni.
Pantang bagi Muhtadi minta-minta. Makanya ia pergunakan kehalian memijat itu menambal kebutuhan di perjalanan.
"Selama di perjalan alhamdulilah tidak pernah sampai kehabisan uang. Pokoknya singgah di satu tempat pasti menawarkan jasa pijat. Lalu ketika singgah di rumah teman sesama nyantri biasanya diberikan uang tambahan. Sangu titip ke Mekkah kata mereka," ungkap Muhtadi.
Jalan Muhtadi ke Mekkah tak mulus diawal. Sesampainya di perbatasan negara Myanmar dengan India ia tak diizinkan masuk. Ia pun dipulangkan dari India ke Bali.
Peristiwa itu tak menciutkan tekadnya ke Mekkah. Justru tekadnya makin membesar. Dikayuhnya kembali sepeda ontel dari Banyuwangi ke Mekkah.
"Juli 2024 itu sempat dipulangkan karena tidak boleh masuk. Alasannya, karena sedang terjadi konflik di wilayah Myanmar. Setelah itu mencoba kembali dengan rute yang lebih cepat," terang Muhtadi.
Masih sama, Muhtadi berangkat hanya modal mijat dan sepeda lipat. Dikayuhnya sepeda sampai ke Jakarta. Berbeda dari perjalanan pertama yang melintasi Sumatera, ia memilih rute ke Batam via kapal laut.
Sesampainya di Batam, Muhtadi singgah sementara mencari modal. Jadi dukun pijat musiman di tanah Batam. Sampai akhirnya modal terkumpul dan Muhtadi melanjutkan perjalanan via Malaysia dan Thailand.
Hambatan di perbatasan Myanmar-India berhasil ia taklukkan. Kegagalan di awal ternyata berbuah manis di akhir. Muhtadi pun akhirnya bisa melintasi perbatasan dua negara itu.
Ditanya kendala bahasa, Muhtadi berkelakar ada sosok Mbah yang membantunya selama perjalanan. Dari rute sampai penerjemah.
"Kan ada Mbah google mas," kelakar Muhtadi.
Empat hari sebelum Ramadan Muhtadi akhirnya tiba di tanah Makkah. Ka'bah yang diimpikan sewaktu kecil kini terlihat nyata di matanya.
Tak henti-hentinya ia bersujud syukur akan nikmat Tuhan. Padahal, ia menargetkan bisa sampai ke Baitullah dengan durasi sampai dua tahun. Akan tetapi hanya tempo 7 bulan ia tiba di Makkah.
"Kalau bukan kuasa Allah saya tidak akan bisa kesini," tutur Muhtadi.
Ajaibnya, selama perjalan maupun setibanya di Makkah Muhtadi tak henti-hentinya mengirimkan uang kepada istri dan satu anaknya. Bahkan, ia kini bisa mengontrak sebuah bangunan dekat dengan Masjidil Haram.
Bersama 5 warga Indonesia, ia sekarang tinggal dan menetap sementara di Arab Saudi. Sembari mencari tambahan biaya untuk pulang ke Tanah Air.