Kapal Crane saat Beroperasi di Selat Bali Mengangkat Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya (Foto: Satpolairud/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Sejumlah keluarga korban KMP Tunu Pratama Jaya mempertanyakan minimnya informasi yang diterima selama proses pengangkatan bangkai kapal. Salah satunya disampaikan oleh Nadia Putri Rahmawati, istri salah satu korban, saat mengunjungi makam massal di TPU Desa Ketapang, Banyuwangi, Selasa (10/02/2026).
Nadia mendatangi pusara bernomor B-022 dan B-023 yang berisi dua jenazah yang dimakamkan dalam satu liang lahat. Ia meyakini salah satu jenazah tersebut merupakan suaminya, Deni Purwanto, berdasarkan ciri pakaian yang dikenakan saat ditemukan.
“Saya meyakini jenazah yang ditemukan terakhir itu memakai celana cargo coklat susu seperti yang dipakai suami saya,” kata Nadia.
Nadia mengaku tidak mendapatkan informasi resmi terkait identitas jenazah yang dievakuasi ke RSUD Negara pada Senin (2/2/2026). Ia juga menyebut keluarga korban baru mengetahui adanya pemakaman massal pada Kamis (5/2/2026), tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak terkait.
“Kami tidak diberi informasi. Tiba-tiba kami mendapat kabar bahwa sudah ada pemakaman,” ujarnya.
Menurut Nadia, keluarga korban berharap adanya penjelasan terbuka mengenai ciri dan kondisi jasad yang ditemukan selama proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya. Ia menegaskan, keluarga hanya ingin memastikan identitas anggota keluarga mereka.
“Kami berharap jika ditemukan jasad, keluarga bisa diberi informasi,” katanya.
Deni Purwanto terakhir kali berangkat bekerja pada 2 Juli 2025 dengan membawa muatan nanas dari Kediri menuju Bali. Saat itu, usia kehamilan Nadia memasuki tujuh bulan. Hingga kini, jasad Deni belum teridentifikasi secara resmi.
Nadia menduga jasad suaminya muncul ke permukaan setelah sebuah truk berkepala kuning diangkat menggunakan crane kapal yang dioperasikan PT Buto. Truk tersebut, menurut Nadia, serupa dengan kendaraan yang dikemudikan suaminya saat kejadian.
Nadia dan keluarga korban lainnya juga menyampaikan kekecewaan karena kesepakatan tertulis dengan pihak KSOP dan PT Buto dinilai tidak dijalankan. Dalam kesepakatan tersebut, keluarga korban meminta adanya informasi berkala terkait proses dan perkembangan pengangkatan bangkai kapal.
“Ada keluarga korban yang berencana mencabut surat pernyataan karena tidak sesuai kesepakatan,” ujar Nadia.
Ia menyebut terdapat lebih dari 30 keluarga korban yang menunggu informasi perkembangan pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya. Sekitar 20 keluarga di antaranya belum menemukan anggota keluarganya. Selama ini, keluarga korban mengaku memperoleh informasi dari media dan media sosial.
Meski telah mendatangi makam massal, keluarga korban masih menunggu hasil identifikasi resmi dari pihak berwenang. Sebelumnya, tiga jenazah berhasil dievakuasi setelah pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya. Satu jenazah dimakamkan di TPU Griya Giri Mulya, sementara dua jenazah lainnya dimakamkan dalam satu liang lahat di TPU Ketapang, Banyuwangi. (ep)

