Sinergi Penguatan Sistem Rujukan RBM Desa dan Kick-Off Body Talk 2.0 Resmi Dimulai di Banyuwangi

1aua.jpg Kick Off Body Talk 2.0 dan Lokakarya Penguatan Sistem Rujukan RBM Desa (Foto: Riqi/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Upaya memperkuat pemenuhan hak anak dan orang muda disabilitas di Kabupaten Banyuwangi kembali dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak. Lokakarya dan peningkatan kapasitas untuk penguatan sistem rujukan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) Desa sekaligus Kick-Off Body Talk 2.0 digelar pada Rabu (19/08/2026).


Kegiatan tersebut digagas Rumah Literasi Indonesia bersama Aura Lentera Indonesia sebagai mitra pelaksana di Banyuwangi, dengan dukungan Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia. Program ini diarahkan untuk memperkuat layanan yang inklusif, terutama bagi anak dan orang muda dengan disabilitas.


Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menyosialisasikan program Body Talk kepada pemangku kebijakan dan anggota RBM.


“Harapannya, kesehatan reproduksi untuk teman-teman difabel bisa benar-benar dipahami oleh teman-teman difabel, keluarga, masyarakat, dan penyedia layanan, sehingga untuk perundungan, kekerasan seksual pada anak remaja disabilitas ini lebih bisa tercegah sejak dini.” ujar Windoyo.


Menurutnya, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan perundungan dan kekerasan seksual terhadap anak dan remaja dengan disabilitas sejak dini.


Sementara itu, Pendiri Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, menjelaskan lokakarya tersebut difokuskan pada penguatan sistem rujukan RBM di tingkat desa. Sejumlah pemangku kepentingan, termasuk kepala desa dari tujuh wilayah yang menjadi lokasi program, dilibatkan dalam kegiatan tersebut.


“Maksud dan tujuan ini adalah lokakarya untuk memastikan penguatan terkait dengan rujukan RBM di tingkat desa,” kata Tunggul.


Ia mengatakan, pemerintah desa diharapkan dapat memiliki alur rujukan yang jelas sehingga anak-anak dan remaja dengan disabilitas dapat memperoleh akses terhadap berbagai layanan dan pemenuhan hak di tingkat desa.


Penguatan sistem rujukan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Sosial PPKB, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya. Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan komunikasi dan koordinasi antarsektor perlu diperkuat agar kebutuhan warga disabilitas dapat ditangani melalui sistem yang terintegrasi.


“Kita berharap bukan warga atau teman-teman disabilitas yang jalan, tapi kita akan kuatkan sistem integrasinya sehingga datanya yang jalan,” ujar Amir.


Menurut Amir, pemerintah juga menyiapkan sekretariat yang dapat digunakan sebagai ruang koordinasi dan diskusi bersama. Program tersebut akan ditindaklanjuti dan dikawal agar pelaksanaannya tidak berhenti pada kegiatan lokakarya.


Penguatan layanan akan dilakukan lintas sektor, termasuk bidang kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Di sektor pendidikan, pemerintah mendorong agar anak-anak dari kelompok disabilitas dan kelompok rentan tidak mengalami putus sekolah. Sementara di bidang kesehatan, pendampingan akan diberikan kepada penyandang disabilitas, termasuk mereka yang mengalami dampak penyakit tertentu.


Pada tahap awal, Sistem Rujukan RBM Desa dan Proyek Body Talk 2.0 akan diterapkan sebagai pilot project di tujuh desa. Tiga desa berada di Kecamatan Kalipuro dan empat desa lainnya berada di Kecamatan Rogojampi.


Melalui program tersebut, pemerintah desa, organisasi penyandang disabilitas (OPDis), kader, pendamping komunitas dan pemangku kepentingan terkait diharapkan dapat membangun sistem rujukan yang terintegrasi untuk mendukung akses layanan serta pemenuhan hak anak dan orang muda dengan disabilitas. (rq)