Bambu Disulap Jadi Kostum Spektakuler, Gintangan Bamboo Attraction 2026 Sukses Memukau Penonton

1guin.jpg Gintangan Bamboo Attraction 2026 (Foto: Silvi/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Bambu di tangan warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, tak hanya menjadi bahan kerajinan. Dalam gelaran Gintangan Bamboo Attraction 2026, material bambu disulap menjadi beragam kostum kreatif dan megah yang dikenakan puluhan peserta, Rabu (19/8/2026). Tahun ini bertema "Pulung Panguripan".


​Kegiatan yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh 31 peserta yang menampilkan beragam busana kreatif berbahan dasar anyaman bambu. Antusiasme masyarakat terlihat dari ratusan penonton yang memadati lokasi acara, yang turut membawa dampak positif bagi roda  perekonomian para pelaku UMKM setempat.


​Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi warga dalam menjaga identitas daerahnya.


​"Bambu di Desa Gintangan ini bukan hanya sekedar kerajinan, tetapi ini juga sudah menjadi identitas dari budaya Desa Gintangan. Bambu pun di sini sebagai sumber penghidupan dan juga kekuatan ekonomi masyarakat Desa Gintangan," kata Ipuk.


​Ipuk turut menyampaikan harapannya agar ajang ini terus mendorong potensi bambu daerah berkembang ke arah yang lebih maju.


​"Kami berharap Gintangan tidak hanya dikenal sebagai sentra kerajinan bambu, Gintangan terus berkembang menjadi salah satu pusat kreativitas dan inovasi bambu Banyuwangi," harapnya.


​Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Gintangan, Hardiyono, menegaskan filosofi utama di balik penyelenggaraan acara tersebut.


​"Kegiatan Gintangan Bamboo Attraction ini merupakan bentuk dari kekayaan budaya yang ada di Desa Gintangan. Karena Gintangan ini sumber penghidupannya dari bambu, maka bambu ini diartikan oleh masyarakat Desa Gintangan itu sebagai Pulung Panguripan," jelas Hardiyono.


​Rangkaian acara ditutup dengan pawai budaya yang melibatkan para siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Desa Gintangan. Keterlibatan para pelajar ini menjadi langkah regenerasi sejak dini dalam merawat tradisi dan kelestarian olah kerajinan bambu di wilayah tersebut. (sf)