Uang Iuran Sound Horeg dan Dancer Diduga Digelapkan, Protolan Gank Gagal Tampil di Sempu Carnival

1ppel.jpg Tangkapan Layar Rekaman Video saat Terduga Pelaku Didatangi Warga dan saat Klarifikasi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Puluhan pemuda yang tergabung dalam Protolan Gank asal Dusun Panjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, gagal tampil dalam Sempu Carnival 2026, Sabtu (31/10/2026). Rencana mereka meramaikan karnaval dengan iringan sound horeg dan penampilan dancer kandas setelah dana yang dikumpulkan untuk kebutuhan acara diduga digunakan untuk kepentingan pribadi oleh ketua sekaligus bendahara kelompok berinisial YD.


Persoalan tersebut mencuat pada hari pelaksanaan karnaval. Pemilik sound system dari Lumajang memutuskan tidak jadi tampil lantaran biaya sewa belum dilunasi. Uang yang telah dibayarkan kepada vendor tersebut baru berupa uang muka sebesar Rp 1 juta.


Kepala Dusun Panjen, Imam Muslikin, mengatakan persoalan itu kemudian memicu kekecewaan para anggota kelompok. Mereka mendatangi rumah YD untuk meminta penjelasan sekaligus menuntut pertanggungjawaban atas dana iuran yang telah dikumpulkan.


"Saya tidak menyangka kalau masalah ini sampai viral. Anggota kelompok yang ikut bukan hanya dari Panjen, tetapi juga dari daerah lain. Saya sendiri baru tahu mereka akan ikut karnaval sekitar sebulan lalu. Saat itu, dia (YD) izin mau ada cek sound di sini," ujar Imam, Senin (02/11/2026).


Menurut Imam, situasi memanas setelah rencana penampilan mereka batal. Anggota kelompok, para dancer, serta pihak lain yang merasa dirugikan mendatangi kediaman YD. Imam turut hadir untuk membantu menengahi persoalan tersebut agar tidak berkembang menjadi konflik di lingkungan warga.


"Malam itu anggota kelompok, dancer, dan pihak yang dirugikan langsung datang. Saya juga ikut menengahi karena persoalan ini menyangkut warga saya," katanya.


Dari hasil pendataan, sejumlah kewajiban pembayaran belum diselesaikan. Tanggungan tersebut meliputi biaya sewa sound system sekitar Rp 34 juta, pembuatan jersey kelompok sebesar Rp 4 juta, serta honor 16 dancer yang disebut belum dibayarkan. Selain itu, masih terdapat tuntutan penggantian kerugian kepada anggota dan biaya perlengkapan lainnya.


Mediasi kemudian dilakukan di rumah YD dengan melibatkan pihak-pihak yang merasa dirugikan. Dalam pertemuan itu, keluarga YD menyatakan kesediaan untuk membantu menyelesaikan tanggungan yang muncul akibat persoalan tersebut.


Imam menyebut, sebagian pembayaran untuk vendor sound system telah diserahkan. Uang yang masuk mencapai Rp 25 juta sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban tersebut.


"Alhamdulillah ada itikad baik. Keluarga bersedia menyicil. Ini yang sudah masuk Rp 25 juta untuk sound," ungkapnya.


Sementara itu, sisa kewajiban pembayaran masih harus diselesaikan. Berdasarkan hasil mediasi, keluarga YD diberi tenggat waktu hingga akhir tahun untuk menuntaskan tanggungan kepada pihak-pihak yang terdampak.


"Untuk sisanya diberi waktu sampai akhir tahun. Dia (YD) sekarang ada di Bali, tetapi keluarganya menyanggupi untuk mengganti kerugian," pungkas Imam.


Persoalan tersebut menjadi perhatian warga setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Hingga kini, penyelesaian kerugian dilakukan melalui kesepakatan mediasi antara keluarga YD dan pihak-pihak yang merasa dirugikan.


Pada Senin malam, kediaman YD digeruduk warga yang diduga menagih janji pengembalian uang. Bahkan, jalan utama penghubung antar dusun tersendat karena banyaknya masyarakat yang mendatangi rumah YD. (ep)