
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Warga Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi turun temurun, selamatan Jenang Suro, pada Senin (07/07/2023). Tradisi tahunan yang diwariskan oleh masyarakat Osing ini menjadi momen penting dalam menjaga kerukunan serta melestarikan nilai-nilai luhur budaya lokal.
Digelar setiap awal bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Jenang Suro dipercaya membawa makna spiritual dan sosial bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan, memperkuat tali silaturahmi, dan mempererat persatuan warga desa.
Uniknya, Jenang Suro merupakan bubur tradisional khas Osing yang terbuat dari beras yang dimasak bersama bumbu rempah sehingga menghasilkan warna kekuningan. Di atasnya disajikan lauk pelengkap seperti kering tempe, kacang tanah, irisan telur, dan timun. Bahan-bahan tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil bumi warga sekitar.
Kegiatan ini dilakukan secara gotong-royong. Sejak pagi hari, para ibu berkumpul di dapur umum untuk memasak bersama. Suasana kebersamaan terasa saat warga bahu-membahu mengaduk bubur, mempersiapkan hidangan, hingga menyusun keperluan selamatan.
"Selametan jenang suro ini sudah menjadi tradisi turun menurun, sebagai wujud rasa syukur dan doa bersama untuk keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga desa," ujar Abdul Rouf, Ketua Adat Pelaksana Jenang Suro Desa Segobang.
Setelah selesai dimasak, jenang suro dibagikan kepada seluruh warga, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.
Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi bentuk nyata ketahanan budaya masyarakat Osing di tengah modernisasi. Masyarakat Desa Segobang berharap agar Jenang Suro terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Selama kita masih hidup rukun dan menjaga budaya, tradisi ini akan tetap hidup,” ungkap Edi, salah satu warga yang ikut dalam kegiatan.
Dengan semangat gotong-royong dan cinta budaya, Jenang Suro membuktikan bahwa kearifan lokal Banyuwangi tetap memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat. (ep)