Ilustrasi AI (Foto: BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Konferensi Cabang (Konfercab) XIV NU Banyuwangi dilaksanakan di Universitas KH. Mukhtar Syafaat (Uimsya) Karangmulyo, Tegalsari hari ini. Perhelatan majlis tertinggi ini akan menelurkan sejumlah hal. Dan salah satu yang paling ditunggu yakni siapa yang akan jadi pucuk ketua pelaksana (Tanfidziyah) NU Banyuwangi untuk satu periode mendatang.
Tanpa tujuan endorse, apalagi ndolop. Saya berharap Gus Munib, bisa dicalonkan kemudian terpilih senagai ketua Tanfidziyah. Secara kuantitas dan kualitas, saya amati mendekati Ideal, setidaknya menurut kriteria yang saya harapkan. Keinginan ini tanpa memperhatikan persyaratan administrasi dan konstalasi politik yang sedang berlangsung di arena Konfercab. Atau, kalau bukan Gus Munib ya yang seperti dia dengan kriteria yang memadai. Anda punya nama?
Jadi begini, mengenai sosok ideal Ketua PCNU Banyuwangi tentu banyak acuan yang bisa diterapkan. Namun, kerangka kriteria itu setidaknya harus sesuai tantangan zaman yang dihadapi Nahdlatul Ulama Banyuwangi hari ini.
NU tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan yang berbentuk ritual. Sekedar mobilisasi yang dipenuhi pekikan hidap hidup. NU harus melangkah lebih ke sin, yakni persoalan mendasar nahdliyin dan umat islam yakni isu ekonomi umat, kualitas pendidikan, serta akses kebijakan publik yang berpihak. Dalam konteks itu, figur pemimpin NU dituntut memiliki kapasitas multidimensi yang memahami poin-poin tersebut. Syukur jika dia merupakan praktisi salah satunya atau bahkan kesemuanya.
Jika kriteria itu harus dipersonifikasi, berdasarkan analisa saya, figur yang paling dekat sekali lagi saya sebutkan Dr. KH. Ahmad Munib Syafa’at. Putra Almaghfurlah KH. Mukhtar Syafaat. Yang juga tuan rumah pelaksanaan Konfercab NU kali ini.
Berbicara ulama, akademisi atau intelektual. Beliau memiliki legitimasi yang kuat dan diakui. Seorang santri, bisa baca kitab, insyaallah Polyglot, dan juga memiliki jabatan akademik sebagai rektor Uimsya, masih ditambah sebagai pengasuh PP Darussalam. Posisi ini jarang dimiliki figur lain di jajaran NU. Seorang Kiai dan juga akademisi sekaligus. Jarang dan ndilalah masih muda. Gus Munib dalam bahasa sederhana Yu Nah Yu Tun tetangga Pak Anas purna Bupati Banyuwangi, kurang lebih sosok yang "ilmu agama dan ilmu umume seimbang".
Kepemimpinan dengan latar belakang akademik menjadi penting karena NU Banyuwangi memerlukan arah kebijakan yang berdasarkan data. Kebutuhan ini selaras dengan penguatan literasi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia Nahdliyin, khususnya generasi muda serta penguatan kaum grassroot Nahdliyin.
Peningkatan taraf kehidupan watga nahdliyin Banyuwangi dihadapkan pada persoalan struktural umat di akar rumput, terutama terkait ekonomi dan dukungan sistem yang berpihak. Dalam konteks ini, pengalaman Gus Munib sebagai Ketua Koperasi Ausath diharapkan bisa menemukan akar masalah sekaligus solusi. Dalam konteks perekonomian masyarakat, pengalaman beroperasi bisa menjadi medium pemberdayaan ekonomi anggota. Kepemimpinan NU yang memahami tata kelola usaha dan ekonomi kolektif dinilai penting agar NU tidak berhenti pada wacana kesejahteraan, tetapi mampu menghadirkan praktik nyata bagi jamaah. Sehingga ke depan diharapkan pembangunan ekonomi tidak hanya fokus pada fisik, namun juga menyentuh ke kemanusiaannya. Seperti membangun masjid sekaligus meningkatkan harkat para jamaahnya.
Tantangan berikutnya yakni konsolidasi kepengurusan yang banyak dan tersebar hingga skala desa bahkan di bawahnya. Dalam hal ini, keberadaan Gus dalam struktur strategis alumni Pesantren Darussalam Blokagung (Al Adab), yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dan tentunya juga di setiap kecamatan di Banyuwangi, bisa menjadi modal sosial penting yang dimiliki Gus Munib dalam mengonsolidasikan gerakan NU, baik dalam bidang pendidikan, dakwah, maupun sosial kemasyarakatan.
Jaringan kultural semacam ini sering kali lebih efektif dibanding jaringan formal, karena dibangun atas dasar nilai, tradisi, dan kesadaran kolektif.
Realitas berikutnya yang tidak kalah penting yakni relasi dengan politik dan birokrasi pemerintahan. Seringkali ada kekhawatiran ketika ketua NU merupakan pejabat Pemda atau pejabat di lembaga swasta posisinya belum di puncak. Maka kondisi ini sangat riskan. Bayangkan ketika sekelas kepala bidang dinas menjadi ketua NU cabang. Maka di hadapan bupati pasti akan serba sulit.
Gus Munib saat ini tercatat sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sementara Ketua PKB Banyuwangi adalah Abdul Malik Syafaat, yang tidak lain keduanya memiliki hubungan kekerabatan. Sehingga tidak ada sandera dalam hal politik yang dialami Gus Munib ini.
Kondisi ini juga memberi Gus Munib akses langsung terhadap proses legislasi dan pengambilan kebijakan daerah yang nanti menguntungkan warga nahdliyin dan masyarakat secara luas. Tantangannya tentu adalah menjaga marwah NU agar tetap independen, sekaligus mampu memanfaatkan jalur politik sebagai instrumen advokasi kepentingan umat.
Di luar aspek struktural dan formal, penerimaan Nahdliyin sangat ditentukan oleh kedekatan kultural. Gus Munib dikenal memiliki gaya komunikasi yang cair, jenaka, dan berpihak kepada kalangan bawah. Pidatonya lucu dan beberapa kali saya mengetahui dia mau membuatkan sendiri kopi untuk tamunya, meski si tamu orang biasa.
Dalam beberapa kali unggahan, wibawa Gus Munib saat bersurban dengan ketika bersantai mengendarai skuter sespan, imbang.
Kemampuan menyapa umat dengan bahasa sederhana, tanpa kehilangan wibawa keulamaan, merupakan syarat penting bagi seorang tokoh NU untuk diterima luas oleh jamaah akar rumput. Mulai dari santri hingga nahdliyin model aktif yasinan namun absen jumatan.
Dengan berbagai latar tersebut, harapan saya Gus Munib atau figur seperti dia kalau ada bisa terpilih dan akhirnya berkontribusi pada peningkatan kesadaran ekonomi dan pengetahuan Nahdliyin kelas bawah.
NU Banyuwangi ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu menjembatani nilai tradisi dengan tuntutan zaman. Sosok yang tidak hanya menjaga warisan keilmuan, tetapi juga membuka jalan bagi kemandirian dan kemajuan umat. Dalam konteks itulah, nama Gus Munib sepertinya relevan untuk diperbincangkan.
Demikian, dan jika memang berkehendak semoga semuanya sudah disiapkan. Karena ketika nisan sudah di tangan kanan, dan Nasab sudah di genggaman. Maka tinggal nasib berada di tangan Tuhan. (*)
*Shulhan Hadi, Nahdliyin Peminat Kajian Pemberdayaan Sosial Masyarakat

