Bambu Tak Sekadar Bambu, Jadi Kostum Gandrung Sekar Jajang Banyuwangi hingga Buka Peluang Ekonomi

1wwijbj.jpg Kostum Gandrung Sekar Jajang dari Bambu oleh Sekolah Adat Kampoeng Batara (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Bambu tak sekadar menjadi tanaman yang tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Di Papring, Banyuwangi, material tersebut diolah menjadi bagian dari kostum Gandrung Sekar Jajang yang memadukan seni, budaya, kreativitas, sekaligus potensi ekonomi.


Inovasi itu berkembang di lingkungan Sekolah Adat Kampoeng Batara, Papring, Kecamatan Kalipuro yang didirikan Cak Widi Nurmahmudy. Sekolah adat tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya lokal sekaligus mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.


Bambu yang selama ini identik dengan material sederhana diolah menjadi ornamen dan bagian dari kostum pertunjukan. Melalui proses kreatif, bahan lokal tersebut mendapatkan nilai tambah dan tampil sebagai elemen artistik di atas panggung.


Kostum Gandrung Sekar Jajang tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan penari. Penggunaan bambu juga membawa pesan tentang pemanfaatan potensi lokal Banyuwangi yang dapat dikembangkan menjadi karya bernilai seni dan ekonomi.


Konsep tersebut lahir melalui kolaborasi sejumlah pelaku seni. Penata tari Muhammad Gilang Ilham Wahyuda, S.Pd., lulusan ISI Yogyakarta Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, mengembangkan konsep artistik pertunjukan dengan memasukkan unsur lokal sebagai bagian dari karya.


Sementara desain kostum dikerjakan Herfan Efendi, mahasiswa ISI Yogyakarta Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Adapun penataan musik digarap Afgan Gaza Alahitami, S.Sn., alumni ISI Yogyakarta Program Studi Etnomusikologi.


Dalam karya tersebut, bambu juga dimanfaatkan sebagai dasar melodi musik sehingga unsur material lokal tidak hanya hadir melalui visual kostum, tetapi turut menjadi bagian dari pertunjukan.


Pemanfaatan bambu sebagai bahan kostum juga menunjukkan bahwa potensi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal. Persoalannya adalah bagaimana bahan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai lebih tinggi.


Bambu memiliki karakter ringan dan relatif mudah dibentuk. Dengan pengolahan dan desain yang tepat, material tersebut dapat menjadi komponen kostum, aksesori maupun ornamen pertunjukan.


Nilai ekonominya pun tidak hanya berasal dari bambu sebagai bahan baku. Ada kreativitas, keterampilan, desain serta cerita budaya Banyuwangi yang ikut melekat pada produk tersebut.


Dengan konsep itu, masyarakat memiliki peluang untuk tidak sekadar menjual bambu dalam bentuk mentah. Bambu dapat diolah menjadi produk kriya yang memiliki identitas dan nilai jual lebih tinggi.


Keberadaan Sekolah Adat Kampoeng Batara kemudian menjadi penting karena dapat mempertemukan pengetahuan tradisional dengan kreativitas generasi muda. Pemanfaatan bambu dalam kostum Gandrung Sekar Jajang membuka ruang keterlibatan masyarakat, mulai dari penyediaan bahan, pengolahan hingga pembuatan komponen kostum.


Pengembangan juga dapat diperluas ke produk turunan berbahan bambu seperti aksesori, dekorasi dan cendera mata. Jika dilakukan secara berkelanjutan, potensi tersebut bisa membentuk rantai ekonomi kreatif berbasis budaya.


Bahan baku berasal dari lingkungan sekitar, proses pengerjaan melibatkan masyarakat, sementara generasi muda dapat mengambil peran dalam desain, seni pertunjukan hingga pemasaran.


Kostum Gandrung Sekar Jajang juga berpotensi menjadi bagian dari promosi wisata budaya Banyuwangi. Ketika kostum tersebut tampil dalam sebuah pertunjukan, penonton bukan hanya menikmati seni tari dan musik, tetapi juga melihat bagaimana material lokal diolah menjadi karya kreatif.


Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan karya tersebut ke pasar yang lebih luas. Media sosial, pameran, festival budaya, pertunjukan wisata hingga kolaborasi dengan sekolah dan komunitas dapat menjadi sarana promosi.


Generasi muda pun memiliki banyak ruang untuk terlibat, baik sebagai penari, perancang, pengrajin, fotografer, videografer, dokumentator maupun pengelola pemasaran digital.


Pada akhirnya, pemanfaatan bambu dalam Gandrung Sekar Jajang memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada menjaga tradisi dalam bentuk lama. Budaya juga dapat berkembang melalui inovasi tanpa kehilangan akar lokalnya.


Dari Papring, bambu diberi kehidupan baru. Dari tangan kreatif, bambu menjadi bagian dari kostum. Kostum kemudian menjadi bagian dari pertunjukan, dan dari sana terbuka peluang untuk mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis budaya.


Bambu pun tak lagi sekadar bambu. Ia menjadi bagian dari identitas, kreativitas, sekaligus potensi ekonomi Banyuwangi. (ep)