OPINI: Belajar Hormati Ibu dari Kader Banteng Oleh: Shulhan Hadi*

1sulll.jpg Foto Shulhan Hadi dengan Latar Ilustrasi (Foto: Shulhan Hadi & Ilustrasi AI)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Saya meyakini, semua orang sepakat bahwa setiap ajaran kebaikan menempatkan perempuan, khususnya ibu di posisi yang sangat mulia.


Dalam agama yang saya imani, Islam. Posisi ibu memiliki derajat kemuliaan tiga strip di atas ayah. Dalam Hindu sebagaimana yang pernah saya dengar, ibu disebut sebagai guru pertama kehidupan, ini mirip dengan istilah madrasatul ulaa dalam tradisi islam. Dalam Buddha pun juga sama, jasanya nyaris tak terbalaskan. Dalam tradisi Nasrani, jangan ditanya lagi ibu hadir sebagai simbol sakral keimamanan, pengorbanan dan kasih sayang melalui bunda Maria.


Menariknya, praktik menghormati ibu ini justru terlihat nyata dan jelas dilakukan secara komunal justru pada sebuah lembaga politik, yakni partai politik PDI Perjuangan. Terlepas dari semua dinamika secara kelembagaan maupun oknum yang ada di dalamnya, kultur ini menarik dan tidak salah ditiru. Parpol mungkin ditandai sebagai simbol prgamatisme, intrik dan segala jenis diksi sikap abu-abu. Namun untuk urusan menghormati (dan tentu di sini dilanjutkan patuh) kita harus belajar dari PDI Perjuangan 


Di PDI Perjuangan, ada satu sosok ibu yang posisinya nyaris tidak tersentuh logika biasa, terutama orang di luar partai. Siapa lagi kalau bukan ibu Megawati Soekarnoputri. Anak presiden pertama yang juga pernah menjabat sebagai awakil presiden dan presiden RI. Bu Mega bukan sekadar ketua umum secara definitifdi atas kertas surat keputusan, dia lebih dari itu. Dia bagaikan pusat gravitasi semesta di alam raya kaum merah.


Tidak banyak bicara, namun sekali bertitah semua  kader di berbagai level langsung paham satu kata kunci menyikapinya, "tegak lurus".


Kehormatan ini memang layak disandang Bu Mega. Sejak Orde Baru hingga pascareformasi, Megawati adalah satu-satunya perempuan yang bertahan di pusat panggung politik nasional. Mungkin bagi yang tidak suka akan mengatakan Bu Mega lahir sebagai anak presiden. Full previlej dan keutamaan lainnya.


Tapi ingat, selama puluhan tahun persisnya sejak peralihan orde lama ke Orde baru, Ibunya Mbak Puan dan keluarganya ini bukan dielu-elukan, tapi justru ditekan, disingkirkan, dan dipinggirkan secara sistematis oleh penguasa. Bahkan sampai jabatan ketua partai pun disabotase hingga perebutan kantor yang berujung jatuhnya korban jiwa. Dan dia masih tegar hingga sekarang. Bahwa Bu Mega ini ampuh, saya rasa kondisi ini empiris dan terbukti.


Namun kendati demikian, bukan berarti apa yang disampaikan Bu Mega selalu sesuai dengan karep hati anggota. Beberapa kali keputusan yang dia tandatangani memicu kekecewaan Kader di bawah. Namun lagi-lagi mereka tidak berani secara lantang menolak keputusan tersebut dengan menyebut Bu Mega, pol mentok akan bilang kecewa keputusan DPP. Tentu ini  bentuk penghormatan yang bercampur rasa takut. Tak setuju silakan, tapi penghormatan nomor satu. Sungguh sangat sesuai dengan tuntutan birrul walidain ala ajaran Islam. 


Yang terbaru, dalam suksesi penetapan ketua DPC Banyuwangi. Konon, Ketua terbaru Ana Aniati sempat mendapat penolakan dari sejumlah Kader. Ana sendiri sebenarnya sosok aktivis yang sudah malang melintang dalam dunia pergerakan, secara keanggotaan dia juga tidak pernah tercatat sebagai anggota partai selain PDI Perjuangan. Namun dia masih dianggap ornag baru di partai Moncong putih ini. Dan tetap tidak ada nama Mega dalam sikap kekecewaan itu. Dan kini, sepertinya sudah kembali ke mode "Tegak lurus" alias mengikuti dan mengamankan keputusan DPP.


Di titik ini, kita paham mengapa figur seperti Megawati tetap punya daya magnet kuat. Bukan semata karena ia perempuan, tapi karena ia berhasil menduduki posisi “ibu” yang benar-benar menentukan arah. Sesuatu yang di level lokal masih sering berhenti di simbol.


Dari kondisi ini, seharusnya semua orang harus melihat PDI Perjuangan dalam hal sikap takdim kepada Ibu. Apapun alasannya menghormati ibu adalah kebaikan. Dan mungkin, bagi Kader PDI Perjuangan menghormati pilihan Ibu Mega bisa saja terasa kurang menguntungkan. Terutama berkaitan dengan tiket politik. Tapi yakinlah, tiket suksesi politik itu terbatas dan dibatasi aturan. Namun setidaknya dengan menghormati Ibu Mega sepenuh hati tiket menuju surga sudah ada di tangan. Itu kalau benar Bu Mega diposisikan sebagai orang tua.


Dan sekali lagi, tuah seorang Ibu pada diri Bu Mega ini sangat nyata. Tidak usah menunggu di akhirat, siapa pun kader Merah yang berani menantang titah ibu. Itu artinya dia sedang menyiapkan dirinya terhempas dalam neraka pengasingan ke tengah lautan teduh. Sebagaimana sering disampaikan Komandan Bambang Pacul salah satu tokoh populer PDI Perjuangan.  


Menjadi PDI Perjuangan, berarti menjadi anak yang berbakti dan juga siap "Tegak lurus" ikuti perintah Ibu. Merdeka! (*)

**Shulhan Hadi, Masyarakat Banyuwangi