OPINI: NU Banyuwangi, Yai Maskur, Gus Makki dan Selanjutnya Setelah itu Oleh: Shulhan Hadi*

1bwi.jpg Ilustrasi AI (Foto: BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - NU bagi saya bukan hal baru. Kartu fatayat milik ibu, kartanu milik ayah, rutinan lailatul Ijtima dan majalah Aula merupakan pernak pernik simbol keberadaan NU yang saya lihat di rumah sejak dulu. Kemudian menjadi peserta didik RA khadijah  berlanjut ke MI, menjadi penebal tanda bahwa NU sangat dekat saya rasakan.


Namun, melihat NU dari dekat sebagai organisasi yang kompleks, baru saya alami ketika saya duduk di bangku SMA dan kemudian masuk ke jenjang perguruan tinggi.


Ketika itu, NU Banyuwangi dipimpin Kiai Maskur Ali. Jauh sebelum mengenal secara dekat beliau, saya justru lebih dulu mengenal panti asuhan yang dia asuh, Ibnu Sina. Sejak SMA saya sudah sering ke tempat ini, mengunjungi teman sekaligus makan gratis.


Abah Maskur, ingatan saya atas diri beliau atau mungkin juga orang lain yakni gaya bicaranya tegas, retorikanya hidup dan berkobar. Dan saat menjadi ketua Tanfidziyah highlight kepadanya juga NU Banyuwangi cukup kuat. Sebagai ketua, perannya sebagai Brand ambasador NU sangat terlihat.


Di masa itu pula, NU Banyuwangi berjalan beriringan dengan  dinamika politik daerah yabg sedang membuncah. Salah satu kader NU, Abdullah Azwar Anas, yang juga murid Abah Maskur di SMPN 1 Genteng maju dalam pencalonan bupati. NU backup total luar dalam dan alhamdulilah kok ya jadi.


Hingga dalam perjalaannya,  seolah pemerintah selalu berjalan beriringan dengan jamiyyah simbol jagat ini. NU hampir selalu menjadi penyedap kebijakan pemda.  Tentu saja, sikap ini  menuai pro dan kontra di masyatakat atau nahdliyin sendiri. Namun satu hal yang pasti dan disepakati, NU menjadi kekuatan sosial yang memiliki pengaruh cukup kuat bagi di Banyuwangi. Dan ini tentu berpengaruh terhadap psikologi warga nahdliyin. Bangga menjadi nahdlyin. Siapa kita? NU..!! Itu menggema.


Ketika estafet kepemimpinan berpindah ke Kiai Ali Makki Zaini atau akrab disapa Gus Makki, arah gerak itu berubah. Bukan berkurang, melainkan semakin membumi. Jika sebelumnya NU tampak terang dari kejauhan, di masa Gus Makki NU hadir lebih dekat.


Berbeda dengan Yai Maskur yang menjadi mercusuar. Gus Makki seperti lampu-lampu penerangan jalan di desa. Tidak terlalu menyilaukan, tetapi cukup untuk menemani jalan setapak langkah warga. Dan yang jelas Estafet dari lampu mercusuar selanjutnya  lampu penerangan jalan ini terasa sesuai urutan. Masing-masing tepat di zamannya. 


Di masa Gus Makki, transformasi rasa bangga menjadi NU ke dalam kerja nyata mulai ada. Penguatan ulang sumber daya NU mulai berjalan. Pesantren-pesantren yang mulai terlupakan dihidupkan dengan cara unik, dijadikan venue kegiatan penting dan besar.


Di satu sisi, tradisi berkegiatan di pesantren diperlebar dengan berkegiatan di (kantor) desa melalui Sobo Deso. NU hadir di tengah warga yang bangga menjadi NU. Sehingga warga Nahdliyin dengan atribusi Gus hingga blantik wedus memiliki akses yang sama.


Sama-sama memiliki panggung, inklusivitas terbentuk menarik. Meski sejumlah langkah ini belum menjawab tuntas persoalan warga nahdliyin, setidaknya langkah itu mulai menyentuh hati umat, serta menjadi Wahana untuk mendengar keluhannya secara langsung. 


Pada fase ini pula peran perempuan dalam struktur dan lembaga di bawah PCNU menemukan ruang yang lebih nyata. Selain itu aksi yang dilakukan juga terlihat konkrit. Sasarannya pun spesifik, di antaranya Ibu hamil melalui program bertajuk NU Ngunduh Putu. Cukup ikonik dan tentu terasa manfaatnya bagi masyarakat. 


Di luar struktural dan pencanangan program itu. NU hadir dalam berbagai peristiwa kemanusiaan. Mulai penanganan banjir Alasmalang, mobilisasi bantuan bencana lintas kabupaten, hingga kerja-kerja sosial saat pandemi Covid-19 berlangsung. Semua itu bukan sekadar catatan program, tetapi pengalaman kolektif, empiris yang membekas di ingatan warga Nahdliyin.


Dalam ranah politik, Gus Makki menempuh jalan yang berbeda dengan pendahulunya. Namun keduanya sama-sama menjadikan politik sebagai ruang belajar bagi warga NU. Dan di mana pun NU berada, positioning itu harus berdampak manfaat. Nyoto manfaate. 


Sikap yang diambil ini pun bukan sekadar gimmick. Terbukti di kemudian hari, tepatnya setelah status ketua itu telah ditanggalkan.  Gus Makki maju dalam kontestasi Pilkada Banyuwangi, dan meski hasil akhirnya tidak memenangi pertarungan.


Namun semua orang sepakat bahwa, meski dengan sumberdaya dan dukungan partai yang terbatas, kekuatan politik dan elektabilitas Gus Makki cukup tinggi. Ini pula yang menunjukkan betapa kuat jejaring yang dianyam Gus Makki di tingkat bawah.


Dari sini saya terbesit sebuah pertanyaan dan juga harapan.  Jika Kiai Maskur adalah mercusuar yang menancapkan kebanggaan, dan Gus Makki adalah lampu-lampu desa yang menghidupkan pergerakan sosial, maka cahaya seperti apa yang akan dihadirkan oleh kepemimpinan NU Banyuwangi berikutnya?


Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Namun, jawabannya pun tidak sulit didapat. Kuncinya kembali pada kebutuhan umat. Karena sejatinya Nahdlatul Ulama bukan milik segelintir kalangan. NU bukan hanya milik ulama, akademisi, atau keluarga pesantren. NU adalah milik semua orang. Keluarga Masyayikh, keluarga bakul gerih hingga blantik wedus, dari desa hingga kota memiliki hak yang sama merasakan berkah menjadi NU.


Pada akhirnya, NU adalah Nahdlatul Umum. ruang bersama untuk bertumbuh, bergembira, dan sejahtera. Fiy dunya Hasanah. Fiy akhirati hasanah. (*)

*Shulhan Hadi, Nahdliyin Peminat Kajian Pemberdayaan Sosial Masyarakat