Sempat Lega Dapat Sponsor, YD Justru Kebingungan saat Dua Pihak Mundur Jelang Karnaval Sound Horeg

1jihuu.jpg Ilustrasi AI dan Foto saat YD Klarifikasi di Depan Warga (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Kasus dugaan penyalahgunaan uang iuran kelompok pemuda Protolan Gank untuk mengikuti Sempu Carnival 2026 mulai terungkap dari sisi kronologi. YD, pemuda yang mengelola dana kelompok tersebut, disebut sempat merasa lega karena hampir mendapatkan dua sponsor untuk membiayai kebutuhan sound system dan perlengkapan lainnya. Namun, harapan itu buyar setelah kedua sponsor dikabarkan mundur menjelang pelaksanaan acara.


Camat Sempu, Mujito, mengatakan hal tersebut diketahui setelah dirinya meminta penjelasan langsung kepada YD terkait persoalan yang belakangan viral di media sosial itu.


"Saat saya tanyai, dia (YD) hampir mendapatkan dua sponsor yang siap membayar biaya sound system dan perlengkapan lainnya. Makanya dia sempat bernapas lega," kata Mujito, saat dikonfirmasi, Selasa (03/11/2026). 


Menurut Mujito, situasi berubah ketika dua sponsor tersebut menarik diri sekitar dua hari sebelum pelaksanaan check sound, Jumat (30/11). YD yang semula berharap biaya kegiatan bisa ditanggung sponsor akhirnya kebingungan karena masih harus menyelesaikan pembayaran kepada sejumlah pihak.


"Ketika dua hari sebelum pelaksanaan check sound, ternyata kedua sponsor itu menarik diri. Akhirnya dia bingung dan tidak bisa menyampaikan persoalan itu kepada pemuda setempat," jelasnya.


Persoalan tersebut kemudian mencuat setelah YD tidak mampu melunasi biaya sound system dan kebutuhan lain sesuai kesepakatan. Masalah yang awalnya berada di lingkup kelompok pemuda itu akhirnya menjadi perbincangan luas setelah ramai di media sosial.


Mujito menyebut, berdasarkan pengakuan YD kepadanya, uang iuran yang terkumpul memang sempat digunakan untuk kepentingan pribadi. Penggunaan dana itu disebut berlangsung sedikit demi sedikit hingga akhirnya jumlah uang yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk membayar kebutuhan acara.


"Memang dipakai untuk kepentingan pribadi. Dipakainya itu tidak utuh. Saat ada yang menarik iuran, dananya dipakai sedikit-sedikit, seratus, dua ratus, tidak terasa tiba-tiba habis," ungkap Mujito, menyampaikan penjelasan YD.


Di tengah polemik tersebut, Mujito bersama Kapolsek, Babinsa, dan kepala desa setempat menemui YD pada Senin (2/11/2026) malam. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bahwa YD bersedia mengganti kerugian yang ditimbulkan.


"Alhamdulillah, tadi malam berjalan kondusif. Yang bersangkutan bersedia membayar ganti rugi. Uang untuk dancer sudah dilunasi, jersey juga sudah," ujarnya.


Meski demikian, masih ada beberapa tanggungan yang harus diselesaikan. Berdasarkan informasi yang diterima Mujito, kekurangan pembayaran sound system masih sekitar Rp 8 juta. Selain itu, terdapat biaya penjor sebesar Rp 1 juta dan sisa uang iuran teman-temannya sekitar Rp 16 juta.


YD berjanji menyelesaikan seluruh sisa tanggungan tersebut paling lambat dalam dua bulan. Ibu YD juga disebut bersedia membantu mencari dana untuk menutup kekurangan pembayaran.


"Ibunya juga berjanji akan mencarikan uang dan membayarkan sisa kekurangannya. Batas waktu yang disampaikan maksimal dua bulan," imbuh Mujito.


Mujito menambahkan, berdasarkan keterangan YD, persoalan tersebut turut dipermasalahkan oleh pihak eksternal, bukan hanya anggota kelompok yang menyetorkan iuran. YD disebut merangkap sejumlah peran sekaligus, mulai dari ketua, bendahara, hingga pihak yang menarik iuran.


Pemerintah kecamatan berharap kesepakatan penggantian kerugian tersebut dapat dipenuhi sesuai tenggat waktu yang telah disampaikan. Dengan begitu, persoalan yang sempat menjadi perhatian publik itu bisa diselesaikan dan situasi di masyarakat tetap kondusif. (ep)