Pengrajin Batu Akik di Gambiran Banyuwangi, Akhmad Suprayitno (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Demam batu akik yang sempat meledak pada 2014 silam kini memang tak lagi segemerlap dulu. Namun kondisi itu tak membuat para pengrajinnya angkat kaki. Di Banyuwangi, Jawa Timur, seorang pengrajin batu akik justru tetap setia menekuni kerajinan cincin batu alam hingga kini.
Adalah Akhmad Suprayitno, atau akrab disapa Prayitno Akik, pengrajin batu akik asal Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Dari galeri sederhana di halaman rumahnya, Prayitno bersama sang istri masih rutin memproduksi cincin batu akik setiap hari. Menariknya, pesanan tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari kolektor luar negeri.
Prayitno mengakui, kondisi usahanya saat ini jauh berbeda dibanding masa keemasan batu akik pada 2014. Saat itu, ia memiliki hingga empat karyawan dan mampu memproduksi ratusan cincin batu akik per hari. Omzetnya pun tembus Rp 4 hingga Rp 5 juta per hari.
“Sekarang jauh berbeda. Saya kerja sendiri, paling hanya bisa produksi kurang dari 10 cincin per hari. Omzetnya sekitar Rp 300 ribu sehari,” ujar Prayitno.
Meski demikian, Prayitno memilih bertahan. Menurutnya, persaingan saat ini tidak seketat dulu, dan masih banyak kolektor yang mempercayakan pembuatan cincin batu akik kepadanya. Kualitas pengerjaan yang halus, rapi, dan desain yang unik menjadi alasan pelanggan tetap setia.

Soal harga, Prayitno mematok tarif yang terbilang ramah di kantong. Untuk satu cincin batu akik lengkap dengan bahan batu hingga ring atau emban, ia mematok harga kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, tergantung ukuran dan jenis batu.
Menariknya, pelanggan Prayitno tak hanya masyarakat umum. Sejumlah kolektornya diketahui berasal dari kalangan pejabat nasional hingga pensiunan pejabat Polri. Selain melayani pesanan langsung, Prayitno juga memasarkan produknya lewat marketplace seperti Facebook, Shopee, dan Tokopedia.
Salah satu kolektor batu akik asal Banyuwangi, Novian Handris Pramukti, mengatakan batu akik memiliki nilai tersendiri bagi para penggemarnya. Selain berasal langsung dari alam, batu akik dipercaya memiliki makna filosofis, menjaga kesehatan, hingga membawa keberuntungan.
Di balik ketekunannya, Prayitno mengaku kini menghadapi kendala utama berupa sulitnya mendapatkan bahan baku batu akik. Banyak penambang batu yang beralih profesi, sehingga stok bahan makin terbatas dan harganya pun kian mahal.
Meski tren telah meredup, bagi Prayitno, batu akik bukan sekadar bisnis musiman. Kerajinan ini telah menjadi bagian dari hidupnya, sekaligus bukti bahwa kualitas dan ketekunan mampu membuat sebuah karya tetap bertahan di tengah perubahan zaman. (ep)

