Wakil Menteri Kesehatan Deklarasikan Desa dan Kelurahan Siaga TBC di Banyuwangi (Foto: Riqi/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus mendeklarasikan Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Sabtu (24/10/2026). Deklarasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan penularan TBC di masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Benjamin mengapresiasi upaya Banyuwangi dalam mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, jumlah warga yang datang ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatan lebih banyak dibandingkan mereka yang datang karena sakit.
“Saya baru menemukan bahwa kabupaten banyuwangi mempunyai orang yang datang ke puskesmas lebih banyak yang cek kesehatan dari pada yang sakit, terima kasih, ini bagi saya prestasi yang luar biasa,” ujar Benjamin.
Terkait penanganan TBC, Benjamin memaparkan bahwa Indonesia diperkirakan memiliki 1,08 juta orang yang sakit TBC, dengan 126 ribu kematian akibat penyakit tersebut.
Sejak 2025, pemerintah menjalankan program nasional penuntasan TBC dengan meningkatkan anggaran deteksi dan pengobatan hingga 10 kali lipat dibandingkan baseline 2024.
“Fokus pada deteksi aktif, pengobatan tuntas, serta pencegahan penularan TBC di masyarakat,” tuturnya.
Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Elfin Elyas Nainggolan, turut menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi atas upaya penanganan TBC.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa penanganan TBC di Banyuwangi diprioritaskan pada penuntasan pemeriksaan, pengobatan hingga selesai, perluasan investigasi kontak dan terapi pencegahan, serta perbaikan pencatatan. Upaya ini melibatkan puskesmas, rumah sakit, klinik, camat, pemerintah desa, kader, dan perguruan tinggi.
“Penanganan TBC membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami ingin memastikan masyarakat yang terduga TBC segera menjalani pemeriksaan, mendapatkan pengobatan, dan menyelesaikan pengobatannya sampai tuntas," ujar Ipuk.
Pemerintah daerah terus menjalankan program pelayanan sosial dan kesehatan, di antaranya Rantang Kasih, Gancang Aron, serta layanan jemput bola bagi warga. Program-program tersebut telah berjalan lebih dari 10 tahun dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Pemkab juga mengembangkan inovasi OASIS WANGI untuk mempermudah konsultasi kesehatan serta I-Care, layanan kesehatan terpadu untuk penanganan stroke.
Berdasarkan data penguatan penanganan TBC Banyuwangi 2026, tercatat 23.022 terduga TBC telah ditemukan atau mencapai 99,57 persen dari target. Dari jumlah tersebut, 2.534 kasus dinyatakan positif TBC, dengan 91,6 persen di antaranya telah memulai pengobatan. (rq)

