Antrean Truk Ketapang Tembus 15 Kilometer, Gapasdap Soroti Kapasitas Dermaga

1aahuyv.jpg Antrean Truk di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Antrean kendaraan logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mencapai sekitar 15 kilometer. Kondisi ini membuat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan atau Gapasdap menilai persoalan utama bukan terletak pada jumlah kapal, melainkan kapasitas pelayanan dermaga yang sedang berkurang.


Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan saat ini terdapat 56 kapal yang memiliki izin operasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Namun, tidak seluruh kapal dapat dioperasikan secara maksimal karena keterbatasan kapasitas dermaga.


"Antrean panjang bukan disebabkan kekurangan kapal, tetapi karena kapasitas dan produktivitas dermaga sedang berkurang," kata Khoiri dalam keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).


Menurutnya, dalam kondisi normal sekitar 28-34 kapal dapat beroperasi setiap hari. Saat ini jumlah kapal yang bisa beroperasi disebut turun menjadi sekitar 23 kapal akibat berkurangnya kapasitas pelayanan dermaga.


Gapasdap menyebut salah satu penyebabnya adalah pekerjaan peningkatan kapasitas Dermaga MB II Ketapang yang ditutup sejak 21 Agustus 2026. Dermaga tersebut ditargetkan dapat kembali digunakan setelah pengerjaan selesai sekitar Maret 2027 dan direncanakan dapat difungsikan sementara pada periode Natal dan Tahun Baru 2026.


Selain itu, Dermaga Bulusan juga belum dapat beroperasi secara optimal setelah dua unit dolphin fender roboh ke laut dan belum selesai diperbaiki.


"Karena itu, penanganannya perlu difokuskan pada pemulihan, optimalisasi, peningkatan kapasitas, dan penambahan jumlah dermaga," ujarnya.


Gapasdap menilai pemulihan fasilitas dermaga akan memberikan dampak lebih besar terhadap pengurangan antrean dibandingkan sekadar menambah jumlah kapal.


Mereka juga mendorong percepatan penyelesaian Dermaga MB II Ketapang serta perbaikan Dermaga Bulusan. Dengan kembali berfungsinya kedua fasilitas tersebut, kapasitas pelayanan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk diharapkan meningkat.


Selain dermaga, Gapasdap mengusulkan optimalisasi dermaga LCM dan plengsengan. Fasilitas tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk menambah kapasitas pelayanan, terutama ketika sejumlah dermaga utama belum dapat digunakan secara maksimal.


Gapasdap juga meminta adanya pemisahan pelayanan kendaraan ringan dan kendaraan berat berdasarkan kapasitas masing-masing dermaga.


"Kendaraan ringan perlu diarahkan ke dermaga yang sesuai, sedangkan truk besar dan tronton dilayani melalui dermaga dengan kapasitas memadai. Pemisahan tersebut akan meningkatkan produktivitas dermaga dan mempercepat bongkar-muat," jelas Khoiri.


Tak hanya itu, buffer zone untuk kendaraan berat juga dinilai penting. Kantong parkir tersebut dapat digunakan untuk menahan kendaraan sebelum diarahkan menuju pelabuhan sesuai kesiapan dermaga dan jadwal kapal.


Dengan skema itu, antrean kendaraan diharapkan tidak kembali meluber hingga ke jalan nasional dan mengganggu aktivitas pengguna jalan lainnya.


Gapasdap menegaskan siap bersinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi atas kepadatan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.


"Langkah cepat tetap diperlukan, tetapi harus searah dengan penyelesaian akar masalah. Kebijakan sementara jangan sampai dianggap sebagai solusi permanen," tutupnya. (ep)