Gapasdap Dorong Perluasan Dermaga LCM Ketapang, Siap Sinergi Talangi Anggaran Pengembangannya

1ayuagfiu.jpg Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mendorong optimalisasi dermaga LCM (plengsengan) Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Perluasan dermaga dinilai menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas sandar kapal sekaligus mengurai kemacetan di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.


Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi Nurjatim mengatakan dermaga LCM bisa diperluas dengan menyatukan area dermaga melalui konstruksi cor beton. Dengan penambahan kapasitas tersebut, dermaga LCM nantinya dapat digunakan untuk melayani hingga empat kapal LCT sekaligus.


Saat ini, dermaga LCM hanya mampu digunakan untuk tiga kapal. Jika diperluas, kapasitas kapal LCT yang dapat beroperasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk juga berpotensi bertambah.


"Jika dermaga LCM diperluas dengan konstruksi cor, jumlah kapal LCT yang dapat dilayani bertambah dari 9 kapal menjadi 12-13 kapal dengan sekaligus 4 kapal bisa sandar melakukan pemuatan sebagai solusi jangka pendek pengganti sementara Dermaga Bulusan, tentu ini solusi tanpa mengganggu operasional lainnya," jelas Nurjatim, Minggu (6/9/2026).


Menurut Nurjatim, perluasan dermaga LCM menjadi penting menyusul tidak dapat difungsikannya Dermaga Bulusan. Saat ini dua fender di Dermaga Bulusan roboh ke laut sehingga membutuhkan perbaikan.


Padahal, ketika masih beroperasi normal, Dermaga Bulusan berpasangan dengan Dermaga LCM 4 Gilimanuk. Kondisi tersebut membuat kapasitas pelayanan kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk ikut berkurang.


Nurjatim menjelaskan saat ini terdapat tiga dermaga LCM eksisting. Masing-masing pasangan dermaga dapat melayani tiga kapal. Dengan penambahan satu dermaga pada area LCM, kapasitas operasional diperkirakan dapat bertambah sekitar tiga hingga empat kapal LCT.


"Jadi dengan tambahan dermaga LCM ini, jumlah kapal yang bisa beroperasi juga bertambah. Ini yang kami dorong sebagai solusi jangka pendek, terutama selama Dermaga Bulusan belum bisa difungsikan," ujarnya.


Dia menegaskan persoalan kemacetan di jalur Pelabuhan Ketapang bukan disebabkan kurangnya jumlah kapal penyeberangan. Menurutnya, armada kapal yang tersedia sebenarnya sudah mencukupi, namun tidak diimbangi dengan kapasitas infrastruktur dermaga yang memadai.


"Persoalan kemacetan bukan karena kurang kapal. Kapalnya banyak, tetapi tempat sandarnya tidak ada," tegasnya.


Gapasdap bahkan menyatakan siap menalangi biaya perluasan dermaga LCM apabila para pemangku kepentingan menyetujui rencana tersebut. Nurjatim memperkirakan pembangunan dengan konstruksi cor beton membutuhkan anggaran sekitar Rp 400 juta dengan waktu pengerjaan sekitar 45-60 hari.


"Kami dari Gapasdap Banyuwangi siap menalangi anggaran tersebut, agar operasional penyeberangan bisa berjalan lancar," tegasnya.


Nurjatim menyebut saat ini terdapat 56 armada kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Dalam kondisi seluruh dermaga berfungsi normal, kapal yang dapat beroperasi mencapai sekitar 28-32 kapal setiap hari.


Namun, kemampuan operasi saat ini turun menjadi sekitar 23 kapal. Kondisi itu terjadi karena Dermaga Ponton Pelabuhan Ketapang dan Dermaga MB II Pelabuhan Gilimanuk sedang dalam peningkatan kapasitas. Selain itu, Dermaga Bulusan juga belum dapat difungsikan karena kondisi prasarananya belum mendukung keselamatan kapal untuk bersandar.


"Jadi kembali kami tegaskan, lintasan Ketapang-Gilimanuk ini bukan kekurangan kapal. Jumlah kapal sudah lebih dari cukup, tetapi jelas faktor kurangnya dermaga. Jumlah kapal eksisting sebanyak 56 kapal, namun yang bisa melayani operasi hanya 40 persennya saja. Kapalnya banyak tapi tempat sandarnya tidak ada," pungkasnya. (ep)