Pembentukan dan Pelatihan District Fasilitator Body Talk 2.0 (Foto: Riqi/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Upaya memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak penyandang disabilitas terus dilakukan di Kabupaten Banyuwangi. Salah satunya melalui pembentukan dan pelatihan District Facilitator (Fasilitator Distrik) dalam program Body Talk 2.0 yang digelar pada 6–7 November 2026 di Meeting Room Aston Banyuwangi.
Kegiatan ini bertujuan menyiapkan tenaga pendamping yang mampu memfasilitasi anak dan orang muda dengan disabilitas, khususnya dalam pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), sekaligus memperkuat layanan yang inklusif di lingkungan masyarakat.
Sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti pelatihan tersebut. Mulai dari guru, tenaga medis, pekerja sosial masyarakat, jurnalis, influencer hingga ibu rumah tangga. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, kerentanan, serta pencegahan dan penanganan kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas.
Pelatihan berlangsung interaktif melalui diskusi dan praktik simulasi untuk memberikan pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, mengatakan para peserta dipersiapkan menjadi fasilitator yang akan mendampingi anak dan remaja penyandang disabilitas dalam program Body Talk 2.0.

“Teman-teman ini akan menjadi fasilitator untuk mendampingi anak dan remaja disabilitas yang masuk dalam data pendampingan program Body Talk 2.0,” ujarnya.
Pada tahap awal, pendampingan akan difokuskan di Kecamatan Kalipuro dan Rogojampi melalui sejumlah desa yang telah masuk dalam data sasaran. Program tersebut diharapkan menjadi proyek percontohan yang dapat dikembangkan ke kecamatan lain di Banyuwangi.
Dukungan juga diberikan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, salah satunya Dinas Kesehatan (Dinkes). Plt Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Aura Lentera Indonesia, Rumah Literasi Indonesia, Banyuwangi Effective Network, dan seluruh pihak yang terlibat.
Menurutnya, keberadaan fasilitator penting untuk melengkapi peran tenaga kesehatan, mulai dari penanganan, pencegahan hingga pendampingan keluarga.
“Tenaga kesehatan mungkin hanya memiliki waktu setengah jam atau satu jam untuk konseling. Namun, teman-teman fasilitator bisa mendampingi keluarganya untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas akan menjadi perhatian, termasuk pemberian prioritas pelayanan dan penguatan pendampingan agar mereka memahami hak serta mampu meningkatkan kemandirian.

Salah satu peserta, Mega Ayu Imama Wati, pekerja sosial masyarakat, berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesetaraan.
“Disabilitas itu sama seperti manusia lainnya. Kita semua setara,” ungkapnya. Ia berharap para fasilitator dapat terjun langsung ke masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas.
Hal senada disampaikan Achmad Rizki Fauzi, influencer difabel yang juga menjadi peserta. Menurutnya, edukasi seksual dan pemahaman tentang cara memperlakukan sesama manusia secara setara penting diketahui masyarakat, baik difabel maupun non-difabel.
"Semua wajib tahu tentang edukasi seksual dan gimana caranya memanusiakan manusia, enggak ada yang dibedakan entah difabel, non-difabel, entah cewek, entah cowok, kayak gitu. Semoga kedepannya masyarakat semakin melek tentang edukasi seperti ini," ujar Rizki.
Sementara itu, guru SMPN 2 Banyuwangi, Tjahjono Rudi Rijanto, mengaku mendapatkan pemahaman baru yang relevan dengan persoalan yang kerap ditemuinya di sekolah, termasuk kasus kekerasan yang melibatkan anak berkebutuhan khusus.
"Acara ini sangat bagus. Lama sudah saya menginginkan adanya kegiatan ini. Mudah-mudahan ke depannya tidak hanya sekali ini, tapi juga terus berkelanjutan," kata Rudi.
Kegiatan ini digagas Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia sebagai mitra pelaksana di Banyuwangi, dengan dukungan Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia. Melalui program tersebut, pendampingan diharapkan semakin memperkuat perlindungan, kesetaraan, serta pemenuhan hak anak dan orang muda dengan disabilitas. (rq)

