Kisah Perjuangan Budi, Penyadap Getah Karet di Banyuwangi yang Hidup Tanpa Anus

20240209_070835.jpg Budi saat Menjalani Perawatan di RSUD Blambangan, Banyuwangi (Foto: Ramada/RaBa)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Budi, seorang penyadap getah karet asal Dusun Sumber Jambe, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, telah menjalani hidup yang penuh tantangan selama 30 tahun terakhir.


Kisahnya yang mengharukan mengenai kelainan langka yang ia alami, yaitu tanpa anus, menjadi perhatian sejumlah pihak. Menurut keterangan dokter, Budi mengidap kelainan yang dikenal sebagai atresia ani sejak lahir. 


Sejak masa bayi, Budi terpaksa menggunakan lubang buatan pada bagian perut sebelah kiri untuk buang air besar, yang dibuat melalui operasi setelah ditemukan bahwa ia tidak memiliki anus.


Lubang buatan tersebut, meski hanya sementara, membantu Budi untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Namun, keadaan ini membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya, dan sejak awal sekolah dasar, Budi sering kali menjadi korban bullyan dari teman-temannya, terutama terkait dengan kondisinya itu.


Meskipun Budi sempat merasakan masa sekolah dan bermain seperti anak-anak lainnya, tekanan sosial yang dialaminya membuatnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Kondisi ini semakin diperberat oleh kehilangan ayahnya ketika Budi masih berusia enam tahun.


Kehidupan Budi selanjutnya menjadi lebih berat, namun ia berhasil menemukan tempat tinggal di rumah mandor PTPN Sumber Jambe, Sofyan, yang juga menjabat sebagai ketua RW di tempat tersebut.


Perjalanan hidupnya mencapai titik balik ketika Abdul Kadir, seorang mantan pejabat Pemkab Banyuwangi, mengetahui kisah Budi. Tergerak oleh kepedulian, Kadir bersama sejumlah warga Sarongan melakukan penggalangan donasi untuk biaya pengobatan Budi di Surabaya.


Dalam waktu singkat, berhasil terkumpul donasi sebesar Rp 29 juta, yang direncanakan akan digunakan untuk biaya pengobatan dan hidup keluarga Budi selama menunggui proses pengobatan di Surabaya.


"Saya merasa trenyuh dengan penderitaan yang dialami Budi. Selama hidupnya Budi buang air besar lewat lubang buatan. Itu pun harus mencari sungai agar buang airnya lancar. Sungai kecil dibendung, lalu mengambang di atas air, baru bisa buang air," ujar Kadir, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyuwangi, dikutip dari RadarBanyuwangi, pada Rabu (07/02/2024). (*)