Tanggal 18 Maret Diperingati Hari Arsitektur Indonesia, Bagaimana Sejarah dan Perkembangannya?

20240318_233317.jpg Event Festival Arsitektur Nusantara di Banyuwangi Tahun 2023 Lalu (Foto: Nabilah/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Indonesia merupakan salah satu yang mempunyai sejarah penting pada bangunan arsitekturnya, terlebih peninggalan dari masa kerajaan nusantara, kolonial belanda, orde lama, orde baru hingga kini memasuki abad ke-22 perkembangannya sangat cepat dan berkembang. 


Arsitektur tidak jauh dari unsur pelaku atau perancangnya yaitu arsitek, peran arsitek-arsitek dalam pembangunan Indonesia sangat berarti. Maka tanggal 18 Maret ditetapkan sebagai Hari Arsitektur Indonesia.


Menilik Lebih dalam Tentang Arsitektur

Menurut KBBI, arsitektur mempunyai arti seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan dan atau metode dan gaya rancangan suatu konstruksi banguna, menurut asal kata architecture, pada archi artinya kepala dan thecton artinya tukang, maka architecture adalah karya dari kepala tukang. Arsitektur juga dapat diartikan sebagai pengungkapan hasrat ke dalam bentuk media yang mengandung nilai estetika atau keindahan.


Dalam buku Sejarah Arsitektur (Soepandi,2013) menjelaskan dan mengelompokkan perkembangan arsitektur berdasarkan perkembangan teknologi pencapaian konstruksi. Dijelaskan bahwa sejarah arsitektur dimulai dengan bangunan yang berupa gundukan dan tumpukan seperti piramida dan stupa, kemudian bangunan yang telah memiliki tang seperti kul Hera, selanjutnya bangunan seperti membentuk telap memiliki kubah seperti Pantheon dan hingga bangunan dengan permainan geometri.

  

Dapat disimpulkan bahwa arsitektur adalah suatu bagian dari perkembangan sebuah teknologi dalam peradaban-peradaban tertentu, Arsitektur sangat dipengaruhi oleh aspek teknologi dan perkembangan pemikiran oleh manusia, dimana teknologi semakin maju maka perkembangan desain arsitektur pun akan semakin rumit, makin banyak manusia yang belajar mengenai arsitektur lebih dalam makin dalam imajinasi yang tertuang dan diaplikasikannya dalam bentuk karya seni bangunan.


Pengaruh arsitek terlihat jelas pada bangunan sejarah Indonesia, seperti bangunan museum berupa candi atau museum merapi di Yogya dan museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, artefak kuno, objek wisata berupa monas, gedung sate, keraton Yogyakarta, Lawang Sewu dan lainnya adalah jejak-jejak bangunan sejarah yang patut diingat oleh generasi-generasi penerus untuk menghormati para pencetus dan arsitek Indonesia.


18 Maret Sebagai Hari Resmi Arsitektur Indonesia

Hari tersebut menarik diulas karena tak banyak tau bahwa tanggal 18 Maret merupakan Hari Arsitektur Indonesia bukan alasan karena tanggal 18 tidak diperingati Hari Libur Nasional, namun di Perpusnas tercatat sebagai sebagai salah satu tanggal penting. Dikutip dari iai.or.id (9/11/2007) Sejarah Arsitektur Indonesia tidak lepas dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang berdiri sejak 17 September 1959 di Kota Bandung, Jawa Barat. 


Sejarah singkat pada akhir tahun 1950-an dikeluarkan instruksi untuk membentuk gabungan perusahaan yang dimana berfungsi untuk memudahkan komunikasi dua arah antara pemerintah dan pelaku usaha (pengusaha), dengan begitu pemerintah yang pada saat itu komando paling besar dapat memperoleh barang dan jasa berkualitas dan mutu yang baik.


Selanjutnya pada April tahun 1959 diadakan Konferensi Nasional di Jakarta yang dihadiri oleh beberapa arsitek senior dan muda (baru lulus) untuk membentuk Gabungan Perusahaan Perencanaan dan Pelaksanaan Nasional (GAPERNAS). Dalam konferensi tersebut terdapat singgungan pendapat arsitek yang mewakili bidang perencanaan bahwasanya kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama secara teknis, yang dimana perencana berada di lingkup profesional (konsultan) yang bertanggung jawab penuh pada moral dan kehormatan perorangan dan tidaklah mengejar laba dan pelaksana (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial dengan menekankan besarnya laba.


Sejalan dengan seling pendapat dan gagasan di pertemuan tersebut tercetuslah organisasi profesi arsitek Indonesia. Di Jakarta tepatnya di gedung Harmonie sepakat untuk mengadakan pertemuan lagi dengan mengajak rekan arsitek lainnya yang belum tergabung di pertemuan tersebut dan sepakat untuk berbagai tugas, pada saat itu Ir. Soertono yang mewakili biro arsitekturnya PT Budaya menyokong para lulusan angkatan pertama Jurusan Arsitektur ITB sejumlah 18 orang telah resmi purna tugas tahun 1958-1959 dari almamaternya untuk membantu kemudian Ars. F. Silaban satu biro dengan Soertono ialah seorang arsitek otodidak yang melahirkan banyak kemenangan pada berbagai sayembara arsitektur bertugas menghubungi para arsitektur senior.


Menyoroti kerja keras dari dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar yang dihadiri oleh arsitek senior yang telah dihubungi oleh Silaban yaitu Ars. Lim Bwan Tjie dan para arsitektur muda ITB sehingga total berjumlah 21 orang. Pertemuan pertama diadakan di rumah Lim Bwan Tjie sebagai arsitek paling senior kemudian pertemuan kedua diadakan di Taman Budaya Jawa Barat dengan menghasilkan rumusan mandat: tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen otentiknya, Menuju Dunia Arsitektur Indonesia yang Sehat. Pada malam itu juga tonggak sejarah dilahirkan, lembaga resmi tertinggi satu-satunya dalam dunia arsitektur profesional Indonesia bernama Ikatan Arsitek Indonesia atau IAI dan berdiri hingga kini berusia 65 tahun. (*)


Penulis: Sarifatun Nabilah [MG]