
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Tradisi ziarah makam tak bisa lepas dari rutinitas umat muslim khususnya orang Jawa menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Lafaz Allah dikirimkan kepada keluarga atau saudara yang sudah berpulang lebih dulu di atas pekuburan leluhur.
Tetapi apa jadinya jika makam leluhur sudah tertindih atau berganti nisan (maesan). Seperti yang dialami ahli waris makam yang menempati TPU Dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluring, Banyuwangi.
Diantara kerumunan peziarah yang memadati kompleks pemakaman, sebagian ada yang berdoa dibalik tembok makam. Kembang setaman berjejer diantara jalan depan makam dekat tembok.
Usut punya usut ternyata makam leluhur mereka telah tertindih atau berganti makam baru. Sehingga, peziarah memilih berdoa dari tembok dan menempatkan bunga tabur di dekatnya.
Cara berziarah itu sudah dilakukan turun temurun. Dilakukan ahli waris yang sudah tak bisa lagi menemukan makam leluhurnya.
Tanpa menghilangkan tradisi ziarah, mereka menyiasatinya dengan meletakkan bunga tabur di dekat tembok makam. Kemudian, dengan khusyuk lantunan tahlil dan doa mereka kirimkan dari balik tembok makam.
"Ada tiga makam leluhur yang sudah tidak ditemukan lagi. Jadi kirim doanya disini (dekat tembok makam)," ujar M Husein, warga setempat, Jumat (28/02/2025)
Husein mengatakan, sudah jadi rutinitas ia bersama sang istri dan anaknya ziarah makam dari balik tembok. Menurutnya, yang terpenting adalah niat bukan simbolis semata.
"Sudah turun-temurun. Lagian sudah generasi kesekian saya ini. Jadi maklum kalau makam leluhur diganti oleh yang lain," ucapnya.
Dari pantauan di TPU Trembelang, terlihat puluhan bunga tabur sengaja diletakkan di balik tembok makam. Dua hari kompleks pemakaman yang ada berbatasan dengan Kecamatan Gambiran ini ramai dikunjungi peziarah.
Ada yang dari Banyuwangi bahkan dari luar daerah seperti Jember hingga Jakarta.
Sejumlah peziarah turut melantunkan doa dan kalimat tahlil dari tembok berdinding batako setinggi 2 meter itu. Senada, peziarah tak ingin menghilangkan tradisi meski makam leluhur sudah tak ditemukan lagi.
"Yang terpenting bisa meneruskan tradisi jelang Ramadan. Meski makam leluhur sudah tidak ada," kata Khoirul Anwar, warga setempat. (ep)